Haji 2025

Temui Wamenag di Mekkah, KAHMI Sulteng Rekomendasikan 6 Poin Evaluasi untuk Haji 2026

KAHMI Sulteng meminta Kementerian Agama RI untuk lebih selektif dan profesional dalam menerima dan bekerja sama dengan syarikah

Penulis: Citizen Reporter | Editor: mahyuddin
CITIZEN REPORTER
HAJI 2025 - Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sulawesi Tengah menyampaikan evaluasi kritis dan memberikan sejumlah usulan konstruktif terhadap pelaksanaan Ibadah Haji 2025.  Evaluasi dan usulan itu disampaikan KAHMI Sulteng saat menemui Wakil Menteri Agama RI Muhammad Safi'i beserta jajarannya. 

TRIBUNPALU.COM - Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sulawesi Tengah menyampaikan evaluasi kritis dan memberikan sejumlah usulan konstruktif terhadap pelaksanaan Ibadah Haji 2025

Evaluasi dan usulan itu disampaikan KAHMI Sulteng saat menemui Wakil Menteri Agama RI Muhammad Safi'i beserta jajarannya.

Evaluasi itu disampaikan dalam sebuah dialog dan silaturahim resmi yang berlangsung di Kantor Haji Daerah Kerja Mekkah.

Dalam pertemuan tersebut, KAHMI Sulteng yang diwakili Salihudin M Awal, Yaumihi M Palampanga, Rahmad Iqbal Nurcholish, Romy Gafur, dan Inge Mogalestari, menyampaikan keprihatinan sekaligus harapan perbaikan untuk pelaksanaan haji tahun-tahun mendatang.

Baca juga: Hari Ini 2.764 Jemaah dan Petugas Haji Pulang ke Tanah Air, Kloter UPG 1 Terbang Perdana

Fokus utama dalam evaluasi adalah peran syarikah (perusahaan penyedia layanan haji di Arab Saudi).

KAHMI Sulteng meminta Kementerian Agama RI untuk lebih selektif dan profesional dalam menerima dan bekerja sama dengan syarikah, agar kualitas layanan haji semakin meningkat. 

Kementerian Agama dinilai perlu menunjukkan kekuatan tawar (bargaining power) yang lebih tinggi kepada Kerajaan Saudi, demi perlindungan dan kenyamanan Jemaah Haji Indonesia.

Temuan-temuan utama KAHMI Sulteng dalam pelaksanaan Haji 2025 antara lain:

1. Transportasi tidak mencukupi.

Banyak jemaah tidak terangkut tepat waktu, terutama dari Muzdalifah ke Mina. Selain itu, proses pengangkutan ke Arafah berlangsung sangat lambat.

2. Kekurangan tenda.

Beberapa jemaah tidak memperoleh tenda akibat perhitungan jumlah yang tidak akurat, menyebabkan ketidaknyamanan serius di lokasi-lokasi utama ibadah.

3. Layanan hotel belum memadai.

Kebutuhan dasar di dalam kamar, termasuk kebersihan, belum terpenuhi dengan baik oleh pihak pengelola.

4. Catering tidak sesuai selera jemaah.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved