OPINI
Mindfulness Finansial Solusi Menjinakkan Stres Keuangan
Apakah akan tenggelam dalam badai keuangan. Atau, tetap berdiri tegar walau basah kuyup dan menggigil kedinginan.
Saat itulah, tanpa ia tahu kenapa, ia membuka sebuah video pendek di media sosial.
Seorang perempuan duduk bersila, matanya terpejam, suaranya tenang.
“Cobalah tarik napas panjang… dan rasakan bahwa kamu masih ada. Di sini. Sekarang ini. Saat ini.”
Lucky tertawa kecil. “Apa ini bisa melunasi utang?” pikirnya sinis.
Tapi karena tidak ada yang lebih buruk dari menyerah, ia pikir tak ada ruginya bila mencoba.
Sekali. Dua kali. Tarik napas. Buang. Diam. Sunyi.
Entah kenapa, untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak memikirkan saldo rekeningnya.
Tidak memikirkan apakah besok, ia bisa makan atau tidak.
Ia hanya duduk, mendengarkan bunyi jangkrik dan napasnya sendiri.
Sejenak, dunia yang penuh angka itu mengendur. Seolah kecemasan hanyalah benang kusut.
Tiap hembusan napas seolah seperti tangan yang perlahan mengurai benang kusut itu.
Hari demi hari berlalu. Tentu saja Lucky tidak mendadak kaya.
Ia tetap mencari pembeli dan penjual mobil bekas. Tanpa ada kepastian transaksi jual-beli.
Namun ada yang berbeda. Ia kini punya ritual baru.
Lima menit sebelum membuka gawainya. Ia duduk diam.
| Semiotika Pesan Komunikasi Politik JK: Termul Jual, JK Beli |
|
|---|
| Melawan Reduksi Kebenaran di Ruang Siber: Sikap Rektor UMI dalam Menjaga Marwah Negarawan |
|
|---|
| Catatan dari Tanah Poso dan Morut: Menjaga Soliditas Organisasi Lewat Ruang Dialog |
|
|---|
| Ruang Publik dan Intel Sukarela |
|
|---|
| Catatan Kritis KAHMI Sulteng: Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Belum Menjawab Kualitas Kesejahteraan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Aslamuddin-Lasawedy-3.jpg)