OPINI
Mindfulness Finansial Solusi Menjinakkan Stres Keuangan
Apakah akan tenggelam dalam badai keuangan. Atau, tetap berdiri tegar walau basah kuyup dan menggigil kedinginan.
Menyambut pikirannya yang berlarian seperti anak kecil di pasar malam.
Lalu menggandengnya perlahan kembali ke momen saat ini. Ke ruang rumah kontrakannya. Ke meja kerja. Saat ini. Sekarang ini. Detik ini juga.
Ketika notifikasi bank berbunyi dan saldo rekeningnya menipis. Ia tidak lagi terpukul seketika. Atau, bingung tak tahu mau bikin apa.
Ia sejenak menghentikan aktivitasnya. Mengamati detak jantungnya. Seraya menyadari bahwa stres bukan datang dari angka.
Stres justru datang dari cerita yang ia bangun sendiri di kepalanya.
Bahwa ia gagal. Bahwa ia tak berdaya. Bahwa ia stres berat lantaran kekurangan uang.
Melalui Mindfulness, ia mulai memahami bahwa ia bukan masalahnya.
Ia bukan jumlah uang di rekeningnya. Ia bukan kekhawatirannya di masa depan.
Ia adalah saksi dari semuanya itu. Saksi yang bisa memilih.
Apakah akan tenggelam dalam badai keuangan. Atau, tetap berdiri tegar walau basah kuyup dan menggigil kedinginan.
Suatu hari, Ronal temannya bertanya, “Kamu kok sekarang kelihatan lebih tenang ? Uangmu sudah banyak ya ?”
Lucky tertawa pelan. “Belum. Tapi napasku terasa panjang sekarang.”
Mereka tertawa bersama. Lucky tahu, hidup tak selalu bisa dikendalikan.
Tapi kesadaran, itulah kemudi hidupnya di tengah badai masalah kehidupan.
Dan...
| Semiotika Pesan Komunikasi Politik JK: Termul Jual, JK Beli |
|
|---|
| Melawan Reduksi Kebenaran di Ruang Siber: Sikap Rektor UMI dalam Menjaga Marwah Negarawan |
|
|---|
| Catatan dari Tanah Poso dan Morut: Menjaga Soliditas Organisasi Lewat Ruang Dialog |
|
|---|
| Ruang Publik dan Intel Sukarela |
|
|---|
| Catatan Kritis KAHMI Sulteng: Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Belum Menjawab Kualitas Kesejahteraan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Aslamuddin-Lasawedy-3.jpg)