OPINI
Mindfulness Finansial Solusi Menjinakkan Stres Keuangan
Apakah akan tenggelam dalam badai keuangan. Atau, tetap berdiri tegar walau basah kuyup dan menggigil kedinginan.
Aslamuddin Lasawedy
Perencana Keuangan Independen
TRIBUNPALU.COM - Di salah satu sudut kota yang begitu hiruk-pikuk. Tempat langit selalu terselip di antara reklame dan atap beton.
Lucky mencoba bertahan hidup di antara tagihan listrik, cicilan motor, dan harga cabai yang tak pernah bisa diajak kompromi.
Sehari-hari, Lucky bekerja sebagai Makelar Mobil.
Penghasilannya datang tak tentu, seringkali lambat, kadang datang berbulan-bulan kemudian.
Tapi hidup tidak pernah lupa menagih setiap bulannya.
Ia tahu benar nada dering yang berarti “ada pembeli mobil atau ada mobil dijual,” atau mana nada yang sering bunyi, yang berarti “rekeningmu nyaris kosong.”
Setiap akhir bulan datang, Lucky merasa seperti berdiri di tepi jurang sambil memandangi kabut.
Tidak jelas apakah masih ada harapan di depan. Atau itu hanya kehampaan saja.
Suatu malam, setelah menghitung ulang sisa uangnya, Lucky menyadari bahwa makanannya selama seminggu ke depan mungkin hanya akan terdiri dari mi instan dan kreativitas.
Lucky duduk sendirian di teras kontrakannya.
Di depannya, secangkir kopi hitam yang terlalu pahit, seperti hidup yang sedang ia jalani.
Dadanya terasa sesak. Otaknya terasa padat. Pikirannya mengembara ke semua kemungkinan terburuk.
Bagaimana kalau kontrakannya sudah jatuh tempo? Atau misalnya listrik rumahnya diputus? dan seterusnya.
Saat itulah, tanpa ia tahu kenapa, ia membuka sebuah video pendek di media sosial.
Seorang perempuan duduk bersila, matanya terpejam, suaranya tenang.
“Cobalah tarik napas panjang… dan rasakan bahwa kamu masih ada. Di sini. Sekarang ini. Saat ini.”
Lucky tertawa kecil. “Apa ini bisa melunasi utang?” pikirnya sinis.
Tapi karena tidak ada yang lebih buruk dari menyerah, ia pikir tak ada ruginya bila mencoba.
Sekali. Dua kali. Tarik napas. Buang. Diam. Sunyi.
Entah kenapa, untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak memikirkan saldo rekeningnya.
Tidak memikirkan apakah besok, ia bisa makan atau tidak.
Ia hanya duduk, mendengarkan bunyi jangkrik dan napasnya sendiri.
Sejenak, dunia yang penuh angka itu mengendur. Seolah kecemasan hanyalah benang kusut.
Tiap hembusan napas seolah seperti tangan yang perlahan mengurai benang kusut itu.
Hari demi hari berlalu. Tentu saja Lucky tidak mendadak kaya.
Ia tetap mencari pembeli dan penjual mobil bekas. Tanpa ada kepastian transaksi jual-beli.
Namun ada yang berbeda. Ia kini punya ritual baru.
Lima menit sebelum membuka gawainya. Ia duduk diam.
Menyambut pikirannya yang berlarian seperti anak kecil di pasar malam.
Lalu menggandengnya perlahan kembali ke momen saat ini. Ke ruang rumah kontrakannya. Ke meja kerja. Saat ini. Sekarang ini. Detik ini juga.
Ketika notifikasi bank berbunyi dan saldo rekeningnya menipis. Ia tidak lagi terpukul seketika. Atau, bingung tak tahu mau bikin apa.
Ia sejenak menghentikan aktivitasnya. Mengamati detak jantungnya. Seraya menyadari bahwa stres bukan datang dari angka.
Stres justru datang dari cerita yang ia bangun sendiri di kepalanya.
Bahwa ia gagal. Bahwa ia tak berdaya. Bahwa ia stres berat lantaran kekurangan uang.
Melalui Mindfulness, ia mulai memahami bahwa ia bukan masalahnya.
Ia bukan jumlah uang di rekeningnya. Ia bukan kekhawatirannya di masa depan.
Ia adalah saksi dari semuanya itu. Saksi yang bisa memilih.
Apakah akan tenggelam dalam badai keuangan. Atau, tetap berdiri tegar walau basah kuyup dan menggigil kedinginan.
Suatu hari, Ronal temannya bertanya, “Kamu kok sekarang kelihatan lebih tenang ? Uangmu sudah banyak ya ?”
Lucky tertawa pelan. “Belum. Tapi napasku terasa panjang sekarang.”
Mereka tertawa bersama. Lucky tahu, hidup tak selalu bisa dikendalikan.
Tapi kesadaran, itulah kemudi hidupnya di tengah badai masalah kehidupan.
Dan...
Selama ia masih bisa duduk diam. Mendengar suara batinnya. Memeluk momen detik ini juga. Tanpa lari dari kenyataan.
Satu hal yang ia tahu pasti bahwa badai masalah kehidupan boleh datang.
Namun itu tak mempengaruhinya. Ia tetap berdiri tegar. Tak lagi cengeng dan mudah tumbang.
Bagi Lucky, Mindfulness tidak mengubah dunia luar kita.
Ia justru mengubah cara kita berdiri dalam menghadapi dan menjalani bahtera hidup ini.
Di situlah kekuatan hidup itu menyala di antara tarikan napas. Antara kecemasan dan kesadaran.
Di momen itulah, Lucly menemukan kembali dirinya yang sejati.
Bukan sebagai angka. Tapi sebagai manusia biasa.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Aslamuddin-Lasawedy-3.jpg)