OPINI
Belajar Sekadar Formalitas? Semangat Anak Indonesia Tertinggal dari Asia Timur
Tekanan dari keluarga, lingkungan sosial, dan budaya kolektif membuat anak merasa “wajib” untuk berprestasi.
Dan mereka yakin bahwa dengan belajar merupakan tiket keluar dari kemiskinan dan simbol kehormatan keluarga.
Tekanan dari keluarga, lingkungan sosial, dan budaya kolektif membuat anak merasa “wajib” untuk berprestasi.
Di Indonesia? meski pendidikan juga dianggap penting, masih banyak keluarga yang menganggapnya sekadar formalitas, apalagi di daerah terpencil atau di tengah keluarga menengah ke bawah.
Banyak yang sekolah cuma karena "harus” memenuhi wajib belajar. Nilai jadi tujuan akhir, bukan ilmunya.
Tak heran kalau motivasi belajar peserta didik cepat hilang.
Anak-anak di Asia Timur terbiasa mengorbankan waktu bermain mereka buat belajar, pulang sekolah pergi les atau ambil kelas tambahan.
Sedangkan di Indonesia tidak hanya di luar waktu sekolah bermain, bahkan di dalam kelas yang ada gurunya pun.
Karena mereka tidak mendapatkan betapa nikmat dan asiknya belajar.
Kurikulum di Indonesia sering kali berubah-ubah dan tidak jarang dianggap kurang relavan dengan kebutuhan siswa.
Banyak sekolah di Indonesia masih mengandalkan metode hafalan dan ceramah.
Siswa disuruh duduk, mendengarka, lalu ujian.
Jarang banget yang mengajak mikir kritis atau eksplorasi hal baru.
Kurangnya pendekatan pembelajaran yang membuat siswa penasaran, menarik perhatian dan terlalu kontekstual makanya menjadikan siswa cepat bosan.
Di negara-negara seperti Jepang dan Korea, banyak sekolah yang menerapkan metode pembelajaran aktif, eksploratif, dan memperkuat logika berpikir.
Itulah yang membuat pembelajaran menjadi lebih seru.
| Belajar dari Kaltim: Ketika Anggaran Diuji Empati Publik |
|
|---|
| Ketika Sertifikat Menjadi Senjata Pelumpuh Hak Rakyat di Bumi Tadulako |
|
|---|
| Semiotika Pesan Komunikasi Politik JK: Termul Jual, JK Beli |
|
|---|
| Melawan Reduksi Kebenaran di Ruang Siber: Sikap Rektor UMI dalam Menjaga Marwah Negarawan |
|
|---|
| Catatan dari Tanah Poso dan Morut: Menjaga Soliditas Organisasi Lewat Ruang Dialog |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Auliana-Aqillah-1.jpg)