Senin, 27 April 2026

OPINI

Belajar Sekadar Formalitas? Semangat Anak Indonesia Tertinggal dari Asia Timur

Tekanan dari keluarga, lingkungan sosial, dan budaya kolektif membuat anak merasa “wajib” untuk berprestasi.

Editor: mahyuddin
dok pribadi
Mahasiswa Fakultas Bahasa Inggris UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Auliana Aqillah 

Dan mereka yakin bahwa dengan belajar merupakan tiket keluar dari kemiskinan dan simbol kehormatan keluarga.

Tekanan dari keluarga, lingkungan sosial, dan budaya kolektif membuat anak merasa “wajib” untuk berprestasi.

Di Indonesia? meski pendidikan juga dianggap penting, masih banyak keluarga yang menganggapnya sekadar formalitas, apalagi di daerah terpencil atau di tengah keluarga menengah ke bawah. 

Banyak yang sekolah cuma karena "harus” memenuhi wajib belajar. Nilai jadi tujuan akhir, bukan ilmunya.

Tak heran kalau motivasi belajar peserta didik cepat hilang.

Anak-anak di Asia Timur terbiasa mengorbankan waktu bermain mereka buat belajar, pulang sekolah pergi les atau ambil kelas tambahan.

Sedangkan di Indonesia tidak hanya di luar waktu sekolah bermain, bahkan di dalam kelas yang ada gurunya pun.

Karena mereka tidak mendapatkan betapa nikmat dan asiknya belajar.

Kurikulum di Indonesia sering kali berubah-ubah dan tidak jarang dianggap kurang relavan dengan kebutuhan siswa.

Banyak sekolah di Indonesia masih mengandalkan metode hafalan dan ceramah.

Siswa disuruh duduk, mendengarka, lalu ujian.

Jarang banget yang mengajak mikir kritis atau eksplorasi hal baru.

Kurangnya pendekatan pembelajaran yang membuat siswa penasaran, menarik perhatian dan terlalu kontekstual makanya menjadikan siswa cepat bosan.

Di negara-negara seperti Jepang dan Korea, banyak sekolah yang menerapkan metode pembelajaran aktif, eksploratif, dan memperkuat logika berpikir.

Itulah yang membuat pembelajaran menjadi lebih seru.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved