OPINI
Belajar Sekadar Formalitas? Semangat Anak Indonesia Tertinggal dari Asia Timur
Tekanan dari keluarga, lingkungan sosial, dan budaya kolektif membuat anak merasa “wajib” untuk berprestasi.
Auliana Aqillah
Mahasiswa Fakultas Bahasa Inggris UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
TRIBUNPALU.COM - Di tengah kemajuan teknologi dan pesaingan global yang semakin ketat, kualitas Pendidikan menjadi sorotan utama.
Namun, realita menunjukkan bahwa semangat belajar anak Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara Asia Timur seperti Korea Selatan, Jepang, dan Cina.
Anak-anak di Korea, jepang, atau Cina tak mengenal tempat dalam belajar.
Dari pagi sampai malam, bahkan di dalam kendaraan umum pun mereka manfaatkan untuk belajar atau membaca.
Mereka ikut les, bikin tugas, baca buku, dan semangat untuk mengejar nilai terbaik.
Bagaimana di Indonesia? Banyak yang sekolah cuma buat “yang penting lulus”.
Bahkan tak sedikit yang merasa sekolah itu adalah beban, buang-buang uang, "Kan belum tentu lulus sekolah dan dapat pekerjaan”.
Baca juga: Asal Usul Bahasa Inggris, Berakar dari Bahasa Anglo-Saxon Menjadi Global
Banyak pula yang menganggap belajar sebagai sebuah kebutuhan buat masa depan.
Indonesia juga juga punya banyak generasi cerdas.
Jadi kenapa semangat belajarnya berbeda jauh dari mereka dan apa yang salah?
Di Korea atau Jepang, belajar itu kayak harga diri.
Orangtua, guru, dan lingkungan mendorong anak buat serius di sekolah.
Mereka tahu pendidikan bisa mengubah masa depan.
| Melawan Reduksi Kebenaran di Ruang Siber: Sikap Rektor UMI dalam Menjaga Marwah Negarawan |
|
|---|
| Catatan dari Tanah Poso dan Morut: Menjaga Soliditas Organisasi Lewat Ruang Dialog |
|
|---|
| Ruang Publik dan Intel Sukarela |
|
|---|
| Catatan Kritis KAHMI Sulteng: Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Belum Menjawab Kualitas Kesejahteraan |
|
|---|
| Toleransi: Warisan Luhur yang Terus Kami jaga |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Auliana-Aqillah-1.jpg)