OPINI
Belajar Sekadar Formalitas? Semangat Anak Indonesia Tertinggal dari Asia Timur
Tekanan dari keluarga, lingkungan sosial, dan budaya kolektif membuat anak merasa “wajib” untuk berprestasi.
Dan anak-anak di Indonesia cenderung belajar buat ujian, bukan untuk pemahaman jangka panjang.
Di banyak negara Asia Timur, orangtua sangat peduli sama pendidikan anak.
Mereka ikut terlibat, bertanya tentang tugas, mendorong anak mengikuti les tambahan, bahkan memberi pendampingan belajar.
Anak yang tahu bahwa belajar adalah sesuatu yang dihargai di rumah akan lebih terdorong untuk mencintainya.
Sementara di Indonesia, tidak semua orangtua punya waktu atau pengetahuan untuk membantu sang anak belajar.
Ada juga yang terlalu sibuk kerja atau merasa pembelajaran anak itu tugas sekolah.
Padahal, dukungan dan contoh dari orangtua sangat penting dalam membangun semangat belajar.
Gadget Bukan Buat Belajar
Di era digital ini, hampir semua anak punya akses ke gadget baik itu HP, tablet, atau laptop.
Bahkan anak SD pun banyak yang sudah pegang smartphone sendiri.
Sayangnya, kebanyakan anak Indonesia lebih sering pakai gadget buat main game, nonton YouTube atau TikTok, Scroll media sosial.
Bukan hal yang salah, sih. Tapi kalau lebih dari 5 jam sehari dihabiskan cuma buat hiburan, kapan belajarnya?
Masalahnya bukan di Teknologi, tapi cara pakainya.
Gadget dan internet bukan musuh pendidikan.
Bahkan, kalau dimanfaatkan dengan baik, teknologi bisa membantu anak didik dalam proses belajar.
| Kemewahan di Tengah Krisis: Ujian Etika Kekuasaan dan Kepekaan Sosial |
|
|---|
| Belajar dari Kaltim: Ketika Anggaran Diuji Empati Publik |
|
|---|
| Ketika Sertifikat Menjadi Senjata Pelumpuh Hak Rakyat di Bumi Tadulako |
|
|---|
| Semiotika Pesan Komunikasi Politik JK: Termul Jual, JK Beli |
|
|---|
| Melawan Reduksi Kebenaran di Ruang Siber: Sikap Rektor UMI dalam Menjaga Marwah Negarawan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Auliana-Aqillah-1.jpg)