OPINI
Belajar Sekadar Formalitas? Semangat Anak Indonesia Tertinggal dari Asia Timur
Tekanan dari keluarga, lingkungan sosial, dan budaya kolektif membuat anak merasa “wajib” untuk berprestasi.
Ada banyak aplikasi belajar gratis, video edukatif, hingga game yang bisa melatih logika atau bahasa.
Tapi sayangnya, anak-anak tidak diarahkan orangtuanya ke sana.
Orangtua tidak mengawasi dengan ketat.
Sekolah juga belum banyak yang memanfaatkan teknologi secara kreatif.
Baca juga: Merayakan Keberagaman, Warna-Warni Budaya Indonesia
Jadi walaupun gadget ada di tangan, tetap saja yang terjadi adalah overdosis hiburan, kekurangan ilmu.
Kurangnya Kontrol dan Edukasi dari Rumah
Banyak orang tua memberi HP supaya anak anteng.
Tapi tak semua orangtua mengerti cara mengontrol penggunaan gadget.
Tidak pasang batasan waktu (screen time), tidak tahu aplikasi apa yang dipakai anak, jarang mengajak ngobrol tentang apa yang mereka tonton.
Akhirnya, anak jadi lebih dekat sama dunia virtual yang isinya hiburan semata, dan makin jauh dari semangat belajar.
Di negara-negara seperti Cina, Jepang, dan Korea, penggunaan gadget sangat diatur.
Ada batasan jam, bahkan beberapa sekolah dan aplikasi belajar bisa memantau aktivitas anak.
Anak diarahkan buat pakai teknologi untuk mengakses materi belajar, latihan soal, atau ikut kelas online.
Bahkan, game edukatif dan kuis online jadi bagian dari sistem pembelajaran yang fun tapi tetap mendidik.
Agar gadget bisa jadi teman belajar, bukan cuma alat hiburan, orangtua pasang screen time & parental control.
Guru memberi tugas yang melibatkan teknologi positif.
Anak dikenalkan pada aplikasi belajar yang seru (seperti Ruangguru, Duolingo, Khan Academy Kids, dll).
Ajarkan anak cara memilah konten: Mana yang buat hiburan, mana yang buat ilmu.
Gadget itu alat yang bisa jadi alat bantu belajar atau penghambat belajar, semua tergantung bagaimana cara kita menggunakannya.
Kalau anak-anak dibiasakan pakai teknologi untuk hal positif sejak kecil, mereka bisa tumbuh jadi generasi yang melek digital dan cerdas secara akademik.
Semangat belajar siswa juga dipengaruhi guru.
Kalau gurunya antusias dan kreatif, siswa jadi tertarik.
Tapi kalau gurunya kelelahan, terlalu sibuk ngurus administrasi, dan kurang pelatihannya, wajar kalau suasana belajar nggak hidup.
Negara lain kayak Jepang sangat menghargai profesi guru dan menganggapnya sebagai profesi yang mulia.
Mereka dikasih pelatihan rutin dan benar-benar disiapkan buat jadi inspirasi di kelas.
Jika guru tidak termotivasi, bagaimana murid bisa terinspirasi?
Di Indonesia, banyak guru justru terbebani oleh urusan administratif, gaji tak sepadan, dan kurang pelatihan.
Rendahnya semanggat belajar bukan karena masalah siswa semata.
Ini adalah refleksi dari budaya, sistem, dan nilai-nilai yang kita tanamkan sejak dini.
Jika kita ingin mengejar ketertinggalan dari negara-negara Asia Timur, maka reformasi semangat belajar harus dimulai dari rumah, sekolah, hingga kebijakan nasional.
Indonesia tidak kekurangan potensi, hanya perlu mengubah cara pandang terhadap pendidikan.
Semangat belajar anak Indonesia bisa banget ditingkatkan, tapi butuh kerja sama.
Orangtua lebih terlibat, guru diberi pelatihan dan dukungan, sekolah bikin metode belajar yang seru.
Maka berhentilah menganggap belajar itu beban.
Karena belajar itu bukan cuma soal nilai, tapi soal mimpi, masa depan, dan jadi versi terbaik dari diri sendiri.(*)
| Kemewahan di Tengah Krisis: Ujian Etika Kekuasaan dan Kepekaan Sosial |
|
|---|
| Belajar dari Kaltim: Ketika Anggaran Diuji Empati Publik |
|
|---|
| Ketika Sertifikat Menjadi Senjata Pelumpuh Hak Rakyat di Bumi Tadulako |
|
|---|
| Semiotika Pesan Komunikasi Politik JK: Termul Jual, JK Beli |
|
|---|
| Melawan Reduksi Kebenaran di Ruang Siber: Sikap Rektor UMI dalam Menjaga Marwah Negarawan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Auliana-Aqillah-1.jpg)