Selasa, 14 April 2026

Donggala Hari Ini

Warga Desa Towale Donggala Sulteng Gelar Ritual Adat Pandiu Bulava Mpongeo

Memandikan Bulava Mpongeo ini merupakan ritual tahunan yang rutin dilaksanakan masyarakat Desa Towale ditiap bulan Muharram.

|
Penulis: Misna Jayanti | Editor: Fadhila Amalia
Misna/TribunPalu.com
RITUAL ADAT DONGGALA - Masyarakat Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala menggelar upacara adat ritual Pandiu Bulava Mpongeo (Memandikan Emas Mengeong). Minggu (6/7/2025). 

Laporan Wartawan TribunPalu, Misna Jayanti

TRIBUNPALU.COM, DONGGALA - Masyarakat Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, menggelar upacara Adat Ritual Pandiu Bulava Mpongeo (Memandikan Emas Mengeong). Minggu (6/7/2025).

Memandikan Bulava Mpongeo ini merupakan ritual tahunan yang rutin dilaksanakan masyarakat Desa Towale ditiap bulan Muharram.

Baca juga: 5 Fakta Pembunuhan Notaris Bogor Syarifah Sidah,3 Hari Hilang hingga Tewas Terikat di Sungai Citarum

Ritual memandikan emas mengeong ini telah diwariskan turun-temurun sejak era Kerajaan Kaili.

Pada prosesi ini, disaksikan langsung oleh Wakil Bupati Donggala Taufik M Burhan, Asisten I Provinsi Sulteng Fahruddin Yambas, Ketua Dewan Kehormatan DPRD Sulteng, Ketua dan anggota DPRD Donggala, Badan Musyawarah Adat, Dewan Adat, Lembaga adat, dan warga sekitar.

Ritual dimulai sejak pukul 09.00 Wita, sebelum dimandikan, Bulava Mpongeo terlebih dahulu diletakkan didalam sebuah tempat khusus yang dihiasi ornamen berwarna kuning sebagai ciri khas.

Baca juga: Daftar Harga iPhone Terbaru Juli:iPhone 16, iPhone 16E, iPhone 15, iPhone 14, iPhone 13, iPhone 12

Tempat pemandiannya, dihiasi kain kuning dan daun kelapa yang masih muda sebagai ornamen.

Untuk mulai dimandikan, proses pemindahan Bulava Mpongeo menuju tempat pemandian dilakukan secara khidmat oleh keturunan pewaris emas tersebut. 

Yang memandikan Bulava Mpongeo juga tidak sembarang orang, yang memandikannya hanyalah orang-orang tertentu seperti keturunan raja/pewaris dan ibu-ibu adat. 

Keistimewaan ritual Pandiu Bulava Mpongeo juga tercermin pada air yang digunakan dalam prosesi penyucian.

Air bukan diambil secara acak, melainkan dikumpulkan dari empat mata air sakral, masing-masing memiliki makna mendalam bagi masyarakat.

Empat air itu yakni Uve Lino Tolongano (Air dari Desa Lino, melambangkan kejernihan dan kesegaran hidup), Uve Tupurandu (Air dari Dusun 2, Desa Towale, melambangkan semangat perjuangan), Uve Tumbu (Air dari dalam tanah, melambangkan kekuatan alam dan misteri kehidupan), Uve Pertemuan Sungai dan Laut (Air dari pertemuan sungai dan laut, melambangkan penyatuan alam: darat-laut, manusia-alam, dunia-akhirat).

Keempat air tersebut digunakan dalam prosesi penyucian Bulava Mpongeo, sebagai simbol pembersihan diri dan penghormatan terhadap leluhur. 

Pada proses pemandian, Bulava Mpongeo disirami air dari bagian atas. Air itu juga disaring menggunakan kain kuning.

Usai dimandikan, masyarakat diperkenankan mengambil air bekas memandikan Bulava Mpongeo tersebut. Air ini diyakini warga Desa Towale membawa ketenangan batin dan manfaat kesehatan bagi yang meminumnya. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved