Morowali Utara Hari Ini
Bungintimbe WaterSafe, Inovasi Mahasiswa UGM untuk Deteksi Banjir di Morut
Pemasangan alat dilakukan dengan dukungan dari perangkat desa yang turut membantu kelancaran proses di lapangan.
TRIBUNPALU.COM - Program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada tahun 2025 kembali menghadirkan inovasi berdampak langsung pada masyarakat.
Kali ini, sekelompok mahasiswa UGM menciptakan alat pendeteksi banjir yang diberi nama “Bungintimbe WaterSafe” dan telah dipasang di Desa Bungintimbe, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
Inovasi ini digagas oleh Nadhir, mahasiswa S1 Teknik Fisika, bersama rekannya sesama peserta KKN.
Pemasangan alat dilakukan dengan dukungan dari perangkat desa yang turut membantu kelancaran proses di lapangan.
Baca juga: Berani Lancar 2026, Strategi Cikasda Atasi Krisis Air Bersih di Sulteng
Menurut Nadhir, alat tersebut dirancang sebagai respons atas kondisi banjir tahunan yang sering merugikan masyarakat, khususnya di Dusun 3.
“Berdasarkan hasil observasi yang saya lakukan, diketahui banyak warga di Dusun 3 yang terdampak paling parah atas banjir tahunan yang terjadi dari Sungai La,” jelasnya.
Bungintimbe WaterSafe menggunakan sensor ultrasonik canggih yang mampu mengukur ketinggian air secara otomatis setiap lima menit.
Data yang dikumpulkan dikirimkan ke database yang terhubung dengan dashboard berbasis website, sehingga masyarakat bisa memantau kondisi air sungai secara real-time.
Baca juga: Cikasda Sulteng Dapat Tugas Siapkan Hutan Kota untuk FORNAS 2027
Alat ini akan memberikan peringatan waspada saat ketinggian air mencapai 180 cm.
Dengan sistem ini, warga tidak perlu menugaskan petugas khusus untuk memeriksa kondisi sungai secara manual.
“Sistem ini memungkinkan pemantauan secara otomatis tanpa harus turun langsung ke lapangan,” ungkap Nadhir.
Amborape, Pelaksana Harian (PLH) Kepala Desa Bungintimbe, menyambut baik kehadiran inovasi ini. Ia menegaskan bahwa banjir memang menjadi persoalan rutin yang dihadapi warga setiap tahun.
“Banjir di Bungintimbe bisa terjadi satu hingga dua kali dalam setahun, kadang setahun sekali, dua tahun sekali, bahkan lima tahun sekali,” ungkapnya.
Baca juga: Pekan Olahraga HUT RI ke-80 di Morowali Utara Resmi Dibuka
Dengan adanya Bungintimbe WaterSafe, diharapkan pemerintah desa dan masyarakat dapat lebih siap menghadapi potensi banjir.
Inovasi ini menjadi langkah konkret dalam menciptakan desa tangguh bencana, serta mendorong penggunaan teknologi sebagai solusi atas permasalahan lingkungan di tingkat lokal. (*)
| Kapolres Morut Letakkan Batu Pertama Polsubsektor Petasia Barat, Dekatkan Layanan Polisi ke 10 Desa |
|
|---|
| Kapolda Sulteng Kunjungi Morowali Utara, Tegaskan Jaga Marwah Polri dan Hindari Pelanggaran |
|
|---|
| Jalan Nasional Keuno–Tompira Diperbaiki, NNI Tunjukkan Komitmen CSR |
|
|---|
| Pemotongan DBH Rp 600 M, APBD Morut Turun Jadi Rp 1 Triliun |
|
|---|
| Morowali Utara Miliki Infrastruktur Pendidikan dan Kesehatan Baru |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/528050617_1737994793504898_4948924919637772234_njpg.jpg)