Rabu, 22 April 2026

Sulteng Hari Ini

Anak Stunting Rentan Sakit dan Sulit Belajar, BKKBN Minta Cegah Sejak Dini

Bahkan ada pegawai yang secara fisik tampak sehat, namun memiliki daya tangkap dan daya pikir yang rendah.

Editor: Regina Goldie
FAAIZ / TRIBUNPALU.COM
DAMPAK STUNTING - Kepala Kemendukbangda/BKKBN Sulawesi Tengah, Tenny C Sariton mengungkapkan bahwa dampak Stunting juga terlihat dari menurunnya produktivitas kerja. 

TRINUNPALU.COM, PARIMO -  Kepala Kemendukbangda/BKKBN Sulawesi Tengah, Tenny C Sariton mengungkapkan bahwa dampak Stunting juga terlihat dari menurunnya produktivitas kerja.

Bahkan ada pegawai yang secara fisik tampak sehat, namun memiliki daya tangkap dan daya pikir yang rendah.

“Anak-anak sekarang kalau tidak disiapkan dari sekarang, ke depan hanya jadi penonton. Saya khawatir anak-anak Sulteng, khususnya Parigi Moutong, tidak bisa bersaing di daerah sendiri,” ujarnya.

Untuk itu, Tenny C Sariton berharap semua pihak, termasuk pemerintah daerah, terus berkomitmen memanfaatkan anggaran yang telah disalurkan agar berdampak nyata di lapangan.

“Sayang kalau dikasih dana tapi tidak dimanfaatkan. Kami ingin ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh keluarga yang berisiko Stunting,” pungkasnya.

Kemudian ia mengapresiasi Parigi Moutong karena dinilai menunjukkan keseriusan dalam menurunkan angka Stunting.

“Parigi Moutong sudah mulai lebih awal dan geraknya cepat. Ini harus dipertahankan,” ujarnya.

Baca juga: Kapolsek Tinombo Parigi Moutong Tanam Jagung Bareng Santri di Pesantren Alraiyan

Namun, prevalensi Stunting di wilayah Sulawesi Tengah yang saat ini masih berada di angka 26,1 persen.

Menurut Tenny, Stunting adalah permasalahan serius yang dapat menghambat kualitas sumber daya manusia dan masa depan bangsa, jika tidak ditangani secara menyeluruh dan segera.

“Prevalensi Stunting Sulawesi Tengah masih tinggi, yakni 26,1 persen. Di Parigi Moutong sendiri 22,3 persen. Artinya, dari setiap 100 anak yang lahir, 22 di antaranya mengalami Stunting,” ujar Tenny dalam kegiatan penanganan Stunting di Parigi, Selasa (5/8/2025).

Ia menekankan, angka tersebut berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024.

Tingginya angka ini, menurutnya, menunjukkan bahwa perhatian dan penanganan Stunting masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Tenny menjelaskan bahwa Stunting berawal dari kurangnya asupan gizi dan infeksi berulang, terutama pada masa 1000 hari pertama kehidupan anak, yaitu sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun.

“Kalau gizi tidak terpenuhi sejak awal, maka perkembangan otak anak terganggu. Itu yang menyebabkan sulit belajar saat sekolah,” katanya.

Baca juga: Stunting Masih Tinggi di Sulteng, BKKBN: 26,1 Persen Anak Alami Gagal Tumbuh

Ia menambahkan, anak yang mengalami Stunting saat kecil, saat dewasa berisiko tinggi terkena penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, obesitas, hingga jantung koroner.

“Imunitas mereka juga rendah, sehingga tidak tahan menghadapi tekanan lingkungan kerja saat dewasa,” ucapnya.

Ia mencontohkan, dari 45 formasi CPNS yang dibuka di instansinya, hanya 41 yang terisi.

Setengahnya berasal dari luar Sulawesi Tengah, karena anak-anak daerah tidak lolos bersaing.

“Padahal saya sangat ingin anak daerah yang lolos, karena mereka biasanya lebih bertahan. Kalau dari luar, baru satu tahun sudah minta pindah,” kata Tenny.

Ia menilai persoalan ini harus dilihat sejak hulu, dengan memperkuat ketahanan keluarga dan memastikan gizi anak terpenuhi sejak masa kehamilan.

Baca juga: Warga Palu Sambut Antusias Gerakan Pangan Murah Jelang HUT RI ke-80 di Polda Sulteng

“1000 hari pertama kehidupan adalah masa emas. Ini saatnya membentuk pondasi kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak,” tegasnya.

Dalam satu bulan terakhir, ia sudah empat kali hadir dalam kegiatan Stunting di kabupaten tersebut.

BKKBN, lanjutnya, telah menyalurkan berbagai bentuk dukungan, mulai dari Dana Alokasi Non-fisik (DANFIS), Dana DAK BOKB, hingga program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT).

“Kami fasilitasi pemantauan gizi keluarga, edukasi gizi, pendampingan, sampai pembiasaan konsumsi makanan lokal bergizi,” jelasnya. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved