Jumat, 5 Juni 2026

Berapa Dollar Hari Ini? Apa Efeknya Jika Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah?

Berapa Dollar hari ini, Kamis 4 Juni 2026, sudah tembus 18 ribu rupiah?

Tayang:
Editor: Imam Saputro
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
RUPIAH MELEMAH - Rupiah semakin terpuruk hari ini.Berapa Dollar hari ini, Kamis 4 Juni 2026, sudah tembus 18 ribu rupiah? 

Tekanan besar diantaranya dirasakan oleh industri tekstil dan produk tekstil, kimia dan petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, otomotif, serta berbagai sektor yang masih mengandalkan komponen impor dalam rantai produksinya. 

Ia menyampaikan, kondisi ini semakin berat karena dunia usaha juga masih menghadapi biaya logistik, energi, serta biaya pembiayaan yang relatif tinggi.

"Dengan kata lain, saat ini pelaku usaha menghadapi tekanan berlapis atau externally driven cost pressure yang cukup signifikan," ucap Shinta.

Dari sisi aktivitas usaha, Shinta menyebut, dampaknya mulai terlihat melalui penurunan optimisme pelaku industri. 

PMI manufaktur yang kembali masuk zona kontraksi sejak juli 2025 dan tren penurunan Indeks Kepercayaan Industri menunjukkan bahwa sektor riil sedang menghadapi fase yang lebih menantang. 

"Apalagi pelemahan rupiah saat ini jauh lebih dalam dibandingkan posisi pada kuartal pertama tahun ini ketika sebagian (10 subsektor) manufaktur tumbuh di dibawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional, dan 4 subsektor manufaktur diantaranya alami kontraksi," paparnya.

Meski demikian, kata Shinta, dunia usaha masih berupaya melakukan berbagai langkah mitigasi. Banyak perusahaan memilih melakukan efisiensi operasional, hiring freeze (tunda perekrutan), pengendalian biaya non-esensial, penundaan ekspansi dan investasi baru, diversifikasi pasar, serta memperkuat penggunaan bahan baku lokal dan strategi hedging untuk mengelola risiko nilai tukar. 

"Fokus utama saat ini adalah menjaga business continuity sekaligus mempertahankan lapangan kerja di tengah tekanan biaya yang meningkat," ucapnya.

Permintaan Dunia Usaha

Melihat kondisi tersebut, Shinta mengatakan, paling dibutuhkan saat ini adalah menjaga kredibilitas makroekonomi dan kepercayaan pasar terhadap Indonesia melalui koordinasi kebijakan yang kuat antara otoritas fiskal, moneter, dan sektor riil. 

"Stabilitas nilai tukar menjadi sangat penting, namun pada saat yang sama perlu diimbangi dengan langkah-langkah konkret untuk menurunkan berbagai komponen high cost economy yang selama ini membebani dunia usaha, mulai dari biaya logistik, energi, perizinan, hingga cost of compliance yang masih relatif tinggi," ujar Shinta.

Lebih lanjut Shinta mengatakan, dalam konteks ini, dunia usaha juga memahami bahwa berbagai langkah yang dilakukan Pemerintah dan Bank Indonesia merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas makroekonomi nasional.

Keputusan Bank Indonesia untuk menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dapat dipahami sebagai langkah pre-emptive stabilization policy untuk menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan risiko inflasi, serta mempertahankan market confidence di tengah meningkatnya tekanan pasar keuangan global dan risiko geopolitik yang masih tinggi.

Dunia usaha sejatinya meyakini fundamental ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan yang baik. Namun dalam situasi seperti sekarang, efektivitas kebijakan stabilisasi juga perlu diimbangi dengan langkah-langkah yang mampu menjaga daya tahan sektor riil. 

"Stabilitas makro dan pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipisahkan. Karena itu, selain menjaga stabilitas nilai tukar, diperlukan pula kebijakan yang dapat mengurangi tekanan biaya usaha, memperkuat iklim investasi, menjaga kelancaran arus perdagangan dan logistik, serta meningkatkan daya saing industri nasional agar proses stabilisasi ekonomi dapat berjalan tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja," papar Shinta.

 

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved