Jumat, 8 Mei 2026

Donggala Hari Ini

Bukan Sekadar Kain, Tenun Donggala Desa Towale Sarat Nilai Sejarah

Tradisi itu sempat hilang setelah masa penjajahan Belanda dan Jepang, karena seluruh peralatan dimusnahkan.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Misna Jayanti | Editor: Fadhila Amalia
Misna/TribunPalu/Misna Jayanti
WARISAN BUDAYA - Sarung Tenun Donggala atau buya sabe Donggala khususnya dari Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah merupakan warisan budaya yang telah ada sejak era kerajaan Kaili. 

Laporan Wartawan TribunPalu, Misna Jayanti

TRIBUNPALU.COM, DONGGALA - Sarung Tenun Donggala atau buya sabe Donggala khususnya dari Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah merupakan warisan budaya yang telah ada sejak era kerajaan Kaili.

Kepala Desa Towale, Muhammad Subhan menjelaskan, tenun tersebut diperkenalkan sejak masa Raja Kaili pertama oleh keturunan kerajaan bernama Yamamore. 

Baca juga: BREAKINGNEWS: Desa Towale Donggala Raih Rekor MURI Dunia Pengrajin Tenun Terbanyak

Hingga kini, tradisi menenun masih terus dijaga oleh masyarakat setempat.

“Tenun ini sudah ada sejak era kerajaan. Pionirnya adalah orang Towale sendiri, sehingga sampai sekarang kami pertahankan,” ujarnya Selasa (16/12/2025)

Ia mengenang cerita para tetua, dahulu masyarakat membuat benang dari kapas yang tumbuh di pegunungan sekitar desa. 

"Kalau orang dulu tenun dibuat dari kapas. Kapas itu diletakkan di lampu pelita, di tarik-tarik sampai panjang, hingga menjadi benang sutra," ungkap Subhan.

Baca juga: Bupati Donggala Luncurkan Mangga Unggulan, Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Namun, tradisi itu sempat hilang setelah masa penjajahan Belanda dan Jepang, karena seluruh peralatan dimusnahkan.

Mengenai motif, Subhan menjelaskan bahwa Sarung Tenun Donggala dulunya tidak fokus pada motif, melainkan pada warna yang menunjukkan strata sosial, menurut cerita orang tua jaman dulu.

Tenun warna putih dan biru, digunakan oleh turunan Raja Kaili pertama hingga kedua.

Warna kuning, digunakan saat peralihan kekuasaan ke Raja Kaili ketiga.

Sedangkan warna merah, digunakan oleh Panglima.

Warna hitam, digunakan oleh masyarakat biasa.

Baca juga: Jembatan Dusun 3–4 Desa Towale Diusulkan Dibangun Kembali, Lebar akan Ditambah

​"Kalau dulu sesuai dengan strata sosial. Susah kita menceritakan tentang sebuah motif, karena kita tidak fokus ke motifnya, tapi ke warna," ungkapnya.

Namun seiring berkembangnya jaman, warna tenun strata sosial itu tidak lagi berlaku.

Sumber: Tribun Palu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved