OPINI
Toleransi: Warisan Luhur yang Terus Kami jaga
Kerukunan bukan pekerjaan satu pihak. Ia adalah tanggung jawab bersama.
Prof Dr KH Zainal Abidin, M.Ag
Ketua FKUB Sulteng
TRIBUNPALU.COM, PALU - Di hari yang penuh makna ini, saat Provinsi Sulawesi Tengah memasuki usianya yang ke-62 tahun, izinkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), menyampaikan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia kerukunan dan kedamaian yang selama ini senantiasa menyelimuti Bumi Tadulako tercinta.
Usia 62 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ia adalah perjalanan panjang yang diwarnai oleh pasang surut, cobaan, dan tantangan, termasuk tragedi besar yang pernah mengguncang sendi-sendi kehidupan kami.
Namun kami berdiri hari ini, bersama, berdampingan, dan utuh sebagai bukti nyata bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan telah mengakar dalam DNA kehidupan masyarakat Sulawesi Tengah.
Toleransi yang kami miliki bukan toleransi yang dipaksakan. Ia tumbuh dari kesadaran kolektif bahwa kita adalah satu keluarga besar, meskipun berbeda agama, suku, dan latar belakang.
Baca juga: Anwar Hafid Buka Expo dan Job Fair di HUT Sulteng ke-62 Tahun, Paralayang di Puncak Acara
Di Palu, Poso, Tentena, Luwuk, Tolitoli, dan seluruh penjuru Sulteng, kami saksikan betapa tetangga yang berbeda keyakinan saling menjaga, saling membantu, dan saling menghormati dalam keseharian hidup mereka. Itulah wajah asli Sulawesi Tengah.
Kami di FKUB Sulteng merasakan sendiri bagaimana dialog antarumat beragama yang terus-menerus kami bangun menjadi pondasi kokoh yang mencegah perpecahan.
Ketika ada gesekan kecil, kami selesaikan dengan musyawarah. Ketika ada kesalahpahaman, kami luruskan dengan pendekatan hati ke hati. Inilah kearifan lokal kami, mosintuwu, bersatu dalam kebersamaan.
Di usia ke-62 ini, kami ingin menegaskan beberapa hal:
Pertama, toleransi yang telah kami jaga adalah amanah leluhur yang wajib kita wariskan kepada generasi penerus. Jangan biarkan provokasi dari mana pun merobek kain persaudaraan yang telah susah payah kita rajut.
Kedua, kerukunan bukan berarti melebur perbedaan. Justru dalam perbedaan itulah kami menemukan kekayaan dan keindahan Sulawesi Tengah yang sesungguhnya.
Ketiga, peran tokoh agama, tokoh adat, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat sangat menentukan.
Kerukunan bukan pekerjaan satu pihak. Ia adalah tanggung jawab bersama.
Kami mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada seluruh masyarakat Sulawesi Tengah yang telah menjadi penjaga kerukunan sejati.
Baca juga: Intip Rangkaian HUT Sulteng ke-62, Mulai Upacara hingga Ekspor Durian
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/FKUB-Sulteng-Prof-Zainal-2026.jpg)