Jumat, 8 Mei 2026

Parigi Moutong Hari Ini

Produksi Durian Montong di Parigi Moutong Anjlok Hingga 90 Persen Akibat Penyakit Bangkalan

Penurunan hasil panen mencapai hingga 90 persen akibat serangan penyakit yang dikenal warga sebagai “Bangkalan”.

Tayang:
Penulis: Abdul Humul Faaiz | Editor: Fadhila Amalia
Handover/Handover
RESES DRPD PARIGI MOUTONG - Produksi durian montong milik petani di Desa Beraban, Kecamatan Balinggi, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, anjlok drastis. 
Ringkasan Berita:
  • Petani di Desa Beraban, Kecamatan Balinggi, Kabupaten Parigi Moutong mengalami penurunan hasil panen durian montong hingga 90 persen akibat serangan penyakit.
  • Penyakit yang disebut warga sebagai “Bangkalan” diduga menyerang batang hingga akar pohon durian, menyebabkan tanaman cepat mati dan hasil panen menurun tajam.
  • Petani berharap pemerintah daerah segera melakukan penelitian ilmiah dan memberikan penanganan teknis agar produksi durian montong.

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Abdul Humul Faaiz

TRIBUNPALU.COM, PARIGI MOUTONG – Produksi durian montong milik petani di Desa Beraban, Kecamatan Balinggi, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, anjlok drastis.

Penurunan hasil panen mencapai hingga 90 persen akibat serangan penyakit dikenal warga sebagai “Bangkalan”.

Kondisi itu terungkap saat kegiatan reses Ketua DPRD Parigi Moutong, Alfres Tonggiroh, belum lama ini.

Baca juga: Sinergi Lintas Sektor Diperkuat, Sigi Targetkan Kabupaten Sehat 2026

Petani mengaku, hasil panen yang biasanya mencapai 10 ton kini hanya sekitar 1 ton.

Penurunan drastis ini mulai dirasakan dalam beberapa waktu terakhir.

Warga menduga penyakit tersebut menyerang batang hingga akar pohon durian, menyebabkan tanaman cepat mati.

Hingga kini, belum ada penanganan pasti dari pihak terkait.

Petani terpaksa menggunakan berbagai obat komersial tanpa pendampingan teknis.

Kondisi ini membuat mereka khawatir terhadap keberlanjutan usaha durian montong yang selama ini menjadi andalan ekonomi desa.

Durian montong dari wilayah tersebut diketahui telah menembus pasar ekspor.

Baca juga: 1.751 Calon Jemaah Haji Sulteng Siap Berangkat ke Tanah Suci Mei 2026

Jika tidak segera ditangani, krisis ini berpotensi meluas ke wilayah lain.

Petani berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah.

Mereka meminta penelitian ilmiah untuk memastikan penyebab penyakit dan langkah penanganannya.(*)

Sumber: Tribun Palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved