Kamis, 30 April 2026

OPINI

Berani Cerdas, Berani Sehat : Berani Menghadapi Realitas

Di satu sisi, keduanya menghadirkan harapan, akses pendidikan dan layanan kesehatan yang lebih luas bagi masyarakat.

Tayang:
Editor: Regina Goldie
Handover
Muharram Nurdin, Petani Ape Maliko. 

Membantu madrasah dan sekolah kecil di pelosok bukan hanya soal keadilan, tetapi juga investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia.

Jika tidak, kebijakan “BERANI Cerdas” berisiko menjadi program yang elitis terlihat membantu, tetapi tidak menyentuh akar persoalan.

Baca juga: Nekat Gowes dari Sigi ke Luwuk, Pemuda Pewunu Tempuh Perjalanan Jauh Demi Paisupok

BERANI Sehat: Antara Akses dan Realitas

Program “BERANI Sehat” menghadirkan narasi yang tak kalah kuat berobat gratis hanya dengan KTP. Sebuah janji yang, di atas kertas, sangat progresif.

Namun, realitas di lapangan berkata lain.

Akses layanan memang terbuka, tetapi tidak diikuti dengan kesiapan sistem terutama ketersediaan obat.

Akibatnya, muncul fenomena yang ironis pasien mendapatkan layanan gratis di rumah sakit, tetapi harus membeli obat di luar karena stok tidak tersedia.

Di sinilah kebijakan kehilangan maknanya. Gratis menjadi semu. Negara hadir setengah hati.

Lebih jauh, program ini memicu efek domino yang tidak terantisipasi. Sebagian masyarakat mulai meninggalkan kepesertaan BPJS mandiri.

Logikanya sederhana jika dengan KTP saja sudah bisa berobat, mengapa harus membayar iuran?

Dampaknya tidak kecil. Penurunan kepesertaan BPJS berpotensi menimbulkan defisit dan tunggakan yang pada akhirnya menjadi beban sistem kesehatan nasional.

Apa yang tampak sebagai solusi jangka pendek justru bisa menjadi bom waktu di masa depan.

Baca juga: Berani Cerdas, Berani Sehat: Berani Menagih Janji di Tengah Fakta

Pragmatisme versus Ideologi

Sumber: Tribun Palu
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved