Rabu, 27 Mei 2026

Podcast DPRD Morowali

Herlan Anggota DPRD Morowali, Dari Mantan Tukang Ojek dan Buruh Kasar Kini 2 Periode di Parlemen

Baginya, keluhan masyarakat tidak harus didengarkan dalam ruang rapat yang kaku.

Tayang:
Editor: Regina Goldie

Selama fase perpindahan hidup itulah Herlan menempa diri dengan bekerja serabutan sebagai buruh kasar dan pemetik rotan guna membantu orang tuanya yang merupakan petani cokelat.

Bahkan, profesi sebagai tukang ojek pun mantap ia jalani demi bisa membiayai kuliahnya secara mandiri sampai tuntas.

Menariknya, himpitan ekonomi sama sekali tidak menyurutkan langkah Herlan untuk aktif di dunia organisasi.

Baca juga: Honorer Donggala Ceritakan Perjuangan Demi Status Paruh Waktu, Jemput Bola Hingga Kementerian

Jiwa kepemimpinannya justru terasah kuat di jalanan dan kampus, terbukti dengan amanah yang pernah ia pimpin mulai dari Ketua Karang Taruna Kecamatan, Ketua Paguyuban Mahasiswa, hingga puncaknya menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampusnya.

"Jujur saya anak jalanan, hidup di jalan, besar di jalan, sehingga terbukalah komunikasi sama masyarakat dan teman-teman bahwa kita datang apa adanya," kenang Herlan mengenai masa-masa pembentukan karakternya.

Tempaan di organisasi kemahasiswaan seperti HMI dan lembaga diklat inilah yang kemudian memicu cita-citanya sejak sebelum lulus kuliah untuk terjun ke dunia politik praktis melalui pintu partai politik.

Ketika berbicara mengenai titik balik yang memotivasi dirinya masuk ke dunia politik yang terkenal keras dan penuh tekanan, Herlan mengaku bahwa dorongan terbesarnya sangat sederhana namun mendalam, yaitu keinginan kuat untuk mengubah nasib dan mengangkat derajat keluarganya.

"Masa misalnya orang tua saya petani, saya juga mau jadi petani? Artinya ini salah satu pendorong untuk motivasi saya sehingga bisa menjadi anggota DPR seperti yang sekarang," ungkapnya blak-blakan.

Menutup kisahnya, Herlan menegaskan bahwa pandangan umum masyarakat yang melihat politisi hanya dari sisi kesuksesan materi dan kemewahan adalah sebuah kekeliruan besar.

"Sebenarnya ini kalau untuk di dunia politik, ini semata-mata pengabdian," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Palu
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved