Minggu, 31 Mei 2026

Podcast DPRD Morowali

Akhmad Efendi: Menjaga Morowali Agar Tetap Subur, Religius, dan Sejahtera

Ia ingin anak cucu kelak masih bisa menikmati bumi Morowali yang subur, religius, dan sejahtera.

Tayang:
Editor: Regina Goldie
Ringkasan Berita:
  • Akhmad Efendi, Ketua Fraksi Demokrat DPRD Morowali, menceritakan perjalanan hidupnya dari petani di Desa Lantula Jaya, Kecamatan Witaponda, menjadi legislator senior yang telah duduk tiga periode di parlemen.
  • Awal kariernya dimulai sebagai pengurus BPD, Sekretaris Desa, hingga Kepala Desa sebelum terjun ke DPRD, termotivasi oleh kepedulian terhadap pendidikan dan kesehatan masyarakat.
  • Efendi menekankan pentingnya silaturahmi dan hadir langsung bagi warga sebagai kunci kepercayaan pemilihnya. 

TRIBUNPALU.COM - Membayangkan perjalanan seorang Akhmad Efendi memang seperti melihat air mengalir, persis seperti prinsip hidup yang selalu ia pegang.

Siapa sangka, seorang pemuda yang dulunya terombang-ambing akibat badai kerusuhan di Poso, melangkah kaki sebagai perantau tak punya apa-apa ke tanah Bungku, kini justru menjadi salah satu tokoh yang sudah 15 tahun ikut menentukan arah kebijakan di Kabupaten Morowali.

Jauh sebelum duduk di kursi empuk gedung DPRD Morowali sebagai Ketua Fraksi Demokrat, Efendi adalah seorang petani tulen.

Ia mencangkul dan memeras keringat di tanah transmigrasi Desa Lantula Jaya, Kecamatan Witaponda.

Di sanalah garis hidupnya mulai berubah.

Baca juga: Kisah Muslimin Daeng Masiga, Dari Mantan Buruh Tambang Jadi Anggota DPRD Morowali

 Karakter dan dedikasinya memikat hati warga, membuatnya didorong menjadi pengurus BPD, Sekretaris Desa, hingga akhirnya terpilih sebagai Kepala Desa.

"Sebenarnya kalau kita pikir, nama seorang Ahmad Effendi itu adalah seorang petani. Petani yang dipercayakan oleh masyarakat," kenang Efendi seraya tersenyum mengingat masa lalunya.

Titik balik hidupnya terjadi di sebuah sore, selepas salat Asar di masjid kampung. Anwar Hafid, yang kala itu menjabat sebagai Bupati Morowali, datang berkunjung.

Obrolan santai penuh motivasi dari sang bupati membakar semangat Efendi. Mereka bertemu pada satu visi yang sama: kegelisahan warga transmigran tentang masa depan pendidikan anak-anak mereka dan jaminan kesehatan.

"Terjun ke politik itu tidak tersirat di otak saya. Pertama, saya termotivasi dengan Pak Anwar Hafid yang sama-sama orang desa tapi punya semangat pulang kampung membangun daerahnya. Saya melihat visi yang sama, khususnya Partai Demokrat, adalah masalah pendidikan dan kesehatan gratis. Itu yang terpanggil di hati saya untuk dikawal melalui DPRD," ungkapnya.

Baca juga: Putra Bonewa: Politik Sebagai Jalan untuk Membantu Lebih Banyak Orang

Sejak saat itu, langkah politiknya tak terbendung.

Lompat ke arena legislatif, Akhmad Efendi langsung mendapat tempat di hati rakyat.

Tiga periode berturut-turut ia duduk di kursi parlemen dengan perolehan suara yang unik selalu stabil, hanya selisih 10 sampai 20 suara di setiap pemilu.

Bagi Efendi, rahasia di balik kesetiaan ribuan pemilihnya itu sederhana saja, yaitu konsistensi silaturahmi. Ia adalah tipe legislator yang jika mendengar ada warga kesusahan atau hendak melahirkan, akan langsung menyetir mobilnya sendiri untuk mengantar ke rumah sakit.

"Kalau kita rasa orang dipercaya rakyat itu berat ya, amanah Allah itu berat. Andalan kami selama ini adalah silaturahmi. Di mana pun berada tetap harus bisa komunikasi dengan rakyat dan peduli pada kebutuhan nyata mereka, seperti masalah pertanian, pendidikan, dan kesehatan," jelasnya.

Baca juga: Perusahaan Tambang Sulteng Wajib Penuhi KTT, MOMI, dan RKAB Sekaligus

Namun, di balik pembawaannya yang tenang, tersimpan kegelisahan besar dalam benak legislator senior ini ketika melihat Morowali hari ini.

Sebagai orang yang besar dari sektor pertanian, Efendi menatap cemas riuh rendah industri pertambangan yang mulai mengintip wilayahnya di Witaponda.

Bagi Efendi, Witaponda adalah harga mati sebagai lumbung pangan Morowali yang harus dijaga dari kerukan alat berat.

Ia tidak menampik bahwa tambang membawa PAD yang melimpah dan lapangan kerja yang luas di wilayah seperti Bahodopi.

Namun, ia mengingatkan sebuah kebenaran mutlak: tambang suatu saat akan habis dan meninggalkan liang galian, sementara perut manusia tidak bisa berhenti mengonsumsi beras.

Konflik lahan dan berubahnya sumber air yang mulai dirasakan warga adalah alarm keras yang harus didengar pemerintah.

"Saya berharap di Witaponda dapil saya itu tidak ada pertambangan. Cukup karena permasalahan di sana sebagai lumbung pangan. Nanti kalau ini ada banyak pertambangan, bisa-bisa lumbung pangan Morowali habis. Persoalan pertambangan ini ada jangka waktunya, tapi kalau soal pertanian ini panjang masa depannya untuk anak cucu kita. Orang Bahodopi juga butuh padi untuk makan, jangan sampai kita ambil dari luar," tegas Efendi dengan nada serius.

Baca juga: Musliman: Ketiadaan KTT dan MOMI Jadi Penghambat RKAB Perusahaan Tambang

Efendi memimpikan sebuah keseimbangan. Ketika industri nikel di daerah lain menghasilkan uang melimpah, Morowali harus menyiapkan sekoci penyelamat ekonomi masa depan lewat sektor pariwisata dan pelestarian alam, seperti keindahan Sombori yang tak kalah dari Raja Ampat.

Belajar dari daerah perkembangannya di Jawa Timur seperti Banyuwangi dan Malang, ia yakin keindahan alam yang dirawat tidak akan pernah habis menghasilkan kesejahteraan.

"Tambang itu bisa habis, semua itu ada batasnya. Tapi dengan membangun alam, alam itu tidak ada habisnya. Ini yang harus dipahami oleh pemerintah hari ini supaya PAD kita berkesinambungan. Mari kita bangun juga daerah wisata religi atau wisata alam agar seimbang antara bekerja, ibadah, dan rekreasi," tambahnya.

Perjalanan 15 tahun mengabdi tentu bukan waktu yang singkat.

Sadar bahwa suatu saat masanya di parlemen akan usai, Akhmad Efendi hanya berharap para pemimpin Morowali ke depan tidak silau oleh gemerlapnya industri hingga melupakan kelestarian alam.

Ia ingin anak cucu kelak masih bisa menikmati bumi Morowali yang subur, religius, dan sejahtera seutuhnya.

"Pesan saya kepada pemimpin yang ada, jalankan visi misi dengan baik. Kita tidak selamanya akan menjadi DPR atau penguasa, kita juga akan punah. Maka dari itu, jaga alam lingkungan agar tidak punah, supaya Morowali tetap jaya, maju, lestari, dan menjadi surgawinya dunia," tutup Efendi. (*)

Sumber: Tribun Palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved