Rabu, 3 Juni 2026

Podcast DPRD Morowali

Kisah Gafar Hilal, Dari Kuli Bangunan hingga Jadi Anggota DPRD Morowali

Sebagai anak lelaki bungsu yang tinggal di rumah sementara kakak-kakaknya bersekolah di luar daerah,

Tayang:
Editor: Regina Goldie

Ringkasan Berita:
  • Gafar Hilal, legislator muda Partai Nasdem dari Morowali, berhasil mematahkan stereotipe politisi yang biasanya berasal dari latar belakang akademis mulus. Sebelum terjun ke dunia politik,
  • Gafar pernah bekerja sebagai kuli bangunan, kondektur truk, dan mengalami tinggal kelas saat SMA. 
  • Ia menempuh pendidikan tinggi di bidang pertanian, namun kemampuan berpikir kritis dan keberaniannya lahir dari pengalaman sebagai pekerja harian.

TRIBUNPALU.COM - Anggota legislatif biasanya identik dengan citra akademis yang mentereng, lulusan ilmu sosial politik, dan rekam jejak karier yang mulus sejak usia muda.

Namun, stereotipe tersebut berhasil dipatahkan oleh Gafar Hilal, seorang legislator muda dari Partai Nasdem yang berasal dari Kabupaten Morowali.

Siapa yang menyangka bahwa politisi milenial yang kini tengah memasuki periode keduanya di parlemen tersebut dulunya merupakan seorang kuli bangunan, kondektur truk, bahkan sempat tinggal kelas saat duduk di bangku SMA.

Tak hanya itu, latar belakang pendidikannya pun melenceng jauh dari dunia politik praktis karena ia merupakan seorang Sarjana Pertanian.

Saat hadir dalam program Podcast Tribun VIP di Tribun Palu, Gafar secara blak-blakan membuka lembaran masa lalunya yang keras.

Baca juga: Tanam 75 Bibit Mangrove di Pantai Dupa, PDIP Sulteng Dorong Pelestarian Lingkungan Pesisir Palu

Ia mengenang kembali masa-masa ketika duduk di bangku sekolah menengah, di mana kondisi pendidikannya sempat berantakan karena tersita oleh waktu kerja.

"Saya memang SMA saya kacau juga, kadang pergi sekolah kadang tidak. Sampai saya harus akui, saya SMA itu sempat tidak naik kelas satu kali. Ini kerja keras campur nakal itu ya, harus kolaborasi," ujar Gafar sembari tertawa mengenang masa lalunya.

Keputusan Gafar untuk terjun ke dunia kerja kasar sejak usia belasan tahun memang lahir karena keterpaksaan.

Sang ayah didiagnosis menderita penyakit asam urat akut yang parah hingga mengalami kelumpuhan total.

Sebagai anak lelaki bungsu yang tinggal di rumah sementara kakak-kakaknya bersekolah di luar daerah,

Gafar secara otomatis dituntut keadaan untuk mendampingi ibunya dan menjadi tulang punggung keluarga.

Baca juga: Konflik Kepentingan di Balik Rangkap Jabatan

Perjalanan hidupnya kemudian dihabiskan dengan mengurus kebun kakao, menjadi buruh harian di berbagai proyek pembangunan kantor pemerintahan Morowali sekitar tahun 2003 hingga 2005, hingga memegang sekop untuk memuat pasir ke atas mobil truk.

"Hampir semua saya pastikan bangunan pemerintah yang ada di bumi perkantoran saat itu, di tahun-tahun 2003, 2004 sampai 2005, hampir terpastikan saya selalu ikut harian. Dan gaji harian pada saat itu masih lima belas ribu rupiah, itu ikut saya," kenang Gafar.

Sumber: Tribun Palu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved