Breaking News:

Virus Corona

Kabar Baik! Ilmuwan Peraih Nobel Prediksi Wabah Corona Segera Berakhir, Ini Penjelasan dan Buktinya

Ilmuwan biofisika sekaligus peraih Nobel gunakan analisis perhitungan untuk memprediksi berakhirnya wabah virus corona. Terbukti akurat di negara ini.

China Daily via Reuters x Twitter @NobelPrize
Michael Levitt - Ilmuwan biofisika sekaligus peraih Nobel gunakan analisis perhitungan untuk memprediksi berakhirnya wabah virus corona. Terbukti akurat di negara ini. 

Dari hasil hitungannya itu dengan tepat menemukan bahwa China akan melalui puncak virus corona terburuknya, jauh sebelum banyak pakar kesehatan memperkirakan.

WNI yang telah dievakuasi dari Wuhan, China pada Minggu (2/2/2020).
WNI yang telah dievakuasi dari Wuhan, China pada Minggu (2/2/2020). (Twitter.com/@Kemlu_RI)

Saat ini, Levitt memperkirakan situasi serupa akan terjadi di Amerika Serikat dan negara-negara lain di dunia yang terdampak virus corona.

Jika sejumlah ahli epidemiologi memprediksi akan ada gangguan sosial besar-besaran dan berkepanjangan serta jutaan kematian, analisis Levitt justru berkebalikan dengan skenario terburuk itu.

"Yang kita butuhkan saat ini adalah mengendalikan kepanikan. Dalam skala besar, kita akan baik-baik saja," kata Levitt dalam wawancaranya.

Data yang digunakan Levitt

Lantas data apa yang dianalisis oleh Levitt dari kasus wabah virus corona di China?

Pada 31 Januari, China mencatat 46 kasus kematian baru karena virus corona dan 42 kematian sehari sebelumnya.

Meski jumlah kematian terus meningkat setiap harinya, tetapi tren kenaikan itu perlahan mereda.

Menurut penelitiannya, Levitt menemukan fakta bahwa kasus baru yang sedang diidentifikasi atau dalam masa pasien dalam pengawasan (PDP) cenderung lebih lambat daripada jumlah kasus baru positif terinfeksi corona menjadi tanda awal bahwa lintasan wabah telah bergeser.

Kisah Dokter yang Terbaring di Kasur Rumah Sakit Pasien Virus Corona yang Sepi, Potretnya Jadi Viral

"Ini menunjukkan bahwa tingkat peningkatan jumlah kematian akan melambat pada pekan-pekan mendatang," tulis Levitt dalam sebuah laporan yang dikirim kepada teman-temannya, 1 Februari lalu, yang secara luas dibagikan di media sosial China.

Itulah mengapa ia berani memperkirakan jumlah kematian akan berkurang setiap hari.

Tim medis memberikan kode kepada salah satu pasien virus corona. Dokter di Wuhan mengisahkan bagaimana suka duka mereka dalam merawat pasien yang positif terkena virus.
Tim medis memberikan kode kepada salah satu pasien virus corona. (Xinhua via SCMP)

Prediksi yang akurat

Tiga minggu setelahnya, Levitt mengatakan kepada China Daily News bahwa tingkat pertumbuhan virus telah memuncak.

Dia memperkirakan bahwa jumlah total kasus Covid-19 yang terkonfirmasi di China akan mencapai sekitar 80.000, dengan sekitar 3.250 kematian.

Perkiraan ini ternyata sangat akurat.

Pada 16 Maret, total kasus Covid-19 di China tercatat sejumlah 80.298 kasus dan 3.245 kematian, dengan total penduduk negara mencapai 1,4 miliar orang dan sekitar 10 juta penduduk meninggal setiap tahunnya.

Jumlah pasien yang baru didiagnosis telah turun menjadi sekitar 25 setiap harinya, tanpa ada kasus penyebaran yang dilaporkan sejak Rabu.

Wuhan Bagi Kabar Baik, Pertama Kali Diumumkan 0 Positif Domestik Virus Corona, Tim Medis Dipulangkan

Mencari titik puncak wabah di setiap negara

Kini, ilmuwan yang menerima Hadiah Nobel 2013 itu tengah mecoba melihat adanya titik puncak dengan metode serupa di negara-negara lain.

Bahkan, titik ledakan itu juga diprediksi terjadi pada negara-negara yang tidak memberlakukan aturan isolasi ketat atau lockdown seperti dilakukan oleh China.

Untuk mendapatkan kesimpulan ini, Levitt menganalisis data dari 78 negara yang melaporkan lebih dari 50 kasus Covid-19 baru setiap harinya dan melihat adanya tanda-tanda pemulihan di banyak negara.

Dia tidak fokus pada jumlah total kasus di suatu negara, tetapi lebih pada jumlah kasus baru yang diidentifikasi setiap hari, terutama pada perubahan jumlah dari satu hari ke hari berikutnya.

"Angka-angkanya masih tinggi, tetapi jelas ada tanda-tanda pertumbuhan (virus corona) melambat," katanya.

Kegiatan bantuan kelompok medis di luar kapal Diamond Princess berusaha memasukkan obat-obatan dan berbagai bantuan lainnya ke kapal.
Kegiatan bantuan kelompok medis di luar kapal Diamond Princess berusaha memasukkan obat-obatan dan berbagai bantuan lainnya ke kapal. (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

Misalnya, di Korea Selatan, kasus baru memang masih muncul dan membuat jumlah total kasus bertambah.

Namun, perhitungan kasus baru setiap harinya telah menurun dalam beberapa minggu terakhir dengan angka tetap di bawah 200.

Data itu menunjukkan bahwa wabah corona di sana mungkin sudah mereda.

Uji Obat Corona, Iran Berhasil Turunkan Gejala Pasien dalam 48 Jam

Selanjutnya di Iran, jumlah kasus baru Covid-19 yang terkonfirmasi per harinya relatif datar pada pekan lalu.

Pada Senin pekan lalu, kenaikan kasus mencapai 1.053, tetapi pada hari Minggu hanya 1.028.

Meskipun angka kasus baru tersebut terbilang masih cukup tinggi, kata Levitt, tetapi polanya menunjukkan bahwa wabah di sana seolah sudah melewati batas setengah jalan dari masa ledakan wabah.

Sementara, jumlah kasus baru di Italia diperkirakan masih akan terus meninggi.

Di negara itu, jumlah kasus baru yang terkonfirmasi terus meningkat pada sebagian besar hari dalam sepekan terakhir ini.

Kisah dibalik foto seorang dokter di Wuchang yang berbaring dengan pakaian pelindung yang lengkap di kamar penuh dengan kasur kosong yang viral di media sosial.
Kisah dibalik foto seorang dokter di Wuchang yang berbaring dengan pakaian pelindung yang lengkap di kamar penuh dengan kasur kosong yang viral di media sosial. (China Media Group)

Di tempat-tempat yang telah berhasil pulih dari wabah awal yakni Wuhan, China, para pejabat masih harus mengantisipasi fakta bahwa virus corona dapat kembali.

Seperti China yang sekarang sedang berjuang menghentikan gelombang kedua infeksi baru yang datang dari tempat-tempat di mana virus itu menyebar tak terkendali.

Negara-negara lain, menurut dia, hampir pasti menghadapi masalah yang sama.

Wanita 96 Tahun Jadi Pasien COVID-19 Tertua di Korea Selatan yang Berhasil Sembuh

Tidak separah yang terjadi

Levitt mengatakan, ia mendukung kebijakan-kebijakan ketat untuk memerangi wabah tersebut.

Menurut dia, mandat social distancing dan physical distancing atau pembatasan sosial sangat penting.

Terutama larangan pertemuan besar, karena virus ini sangat baru sehingga penduduk tidak memiliki kekebalan terhadapnya dan vaksin kemungkinan baru bisa digunakan beberapa bulan lagi.

Meski begitu, lanjutnya, mendapatkan vaksinasi flu juga penting untuk mengurangi kemungkinan rumah sakit dibanjiri pasien karena virus corona yang tidak terdeteksi.

Para pekerja medis yang mengenakan alat pelindung memindahkan seorang tersangka pasien virus korona (C) ke rumah sakit lain dari Rumah Sakit Daenam di mana total 16 infeksi sekarang telah diidentifikasi dengan virus corona COVID-19, di daerah Cheongdo dekat kota tenggara Daegu pada 21 Februari 2020 Kasus coronavirus Korea Selatan hampir dua kali lipat pada 21 Februari, naik di atas 200 dan menjadikannya negara yang paling parah terkena dampak di luar China ketika jumlah infeksi yang terkait dengan sekte keagamaan meningkat.
Kasus coronavirus Korea Selatan hampir dua kali lipat pada 21 Februari, naik di atas 200 dan menjadikannya negara yang paling parah terkena dampak di luar China ketika jumlah infeksi yang terkait dengan sekte keagamaan meningkat. (YONHAP / AFP)

Semakin Melonjak, Korban Meninggal Akibat Terinfeksi Corona di Italia Tembus hingga 7.500 Orang

Dia menambahkan, pemberitaan media juga berkontribusi besar terhadap kepanikan yang tidak perlu di masyarakat.

Padahal, kasus penyakit lainnya yang juga menyebabkan angka kematian yang tinggi tidak hanya virus corona, tetapi hal itu tidak banyak diberitakan.

Levitt khawatir, langkah-langkah kesehatan masyarakat yang telah menyebabkan gangguan ekonomi yang masif ini justru bisa menyebabkan bencana kesehatan mental mereka sendiri, seperti kemiskinan dan keputusasaan karena kehilangan pekerjaan.

Dia menuturkan, virus dapat tumbuh secara eksponensial atau peningkatan dalam periode tertentu hanya ketika tidak terdeteksi dan tidak ada yang bertindak untuk mengendalikannya.

Hal itulah yang terjadi di Korea Selatan bulan lalu.

Jadi, perlu deteksi dini yang lebih baik, tidak hanya melalui pengujian, tetapi juga bisa dengan pengawasan suhu tubuh seperti diterapkan China, dan isolasi sosial.

Meskipun untuk sementara ini tingkat kematian akibat Covid-19 tampak secara signifikan lebih tinggi daripada flu, Levitt mengatakan, masyarakat tak perlu khawatir.

"Ini bukan akhir dunia. Situasi sebenarnya tidak separah yang seolah terjadi," ungkapnya.

(TribunPalu.com/Kompas.com - Nabilla Thasandra)

Penulis: Isti Tri Prasetyo
Editor: Bobby Wiratama
Sumber: Tribun Palu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved