Virus Corona di Indonesia
Update Corona di Indonesia Selasa, 21 April 2020: Total 7.135 Kasus Positif, 842 Pasien Sembuh
Pemerintah kembali memberikan update perkembangan pandemi Covid-19 atau virus corona.
TRIBUNPALU.COM - Pemerintah kembali memberikan update perkembangan pandemi Covid-19 atau virus corona.
Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyampaikan per Selasa (21/4/2020) ini tercatat adanya 375 kasus baru.
Angka tersebut menambah total kasus di Indonesia menjadi 7.135.
Dari keseluruhan jumlah tersebut, sebanyak 842 pasien dinyatakan sembuh.
Sementara, kasus kematian akibat virus corona di Indonesia berada di angka 616 jiwa.
Sumber: Breaking News Kompas TV
Angka kasus konfirmasi maupun meninggal dunia juga terus bertambah.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah menetapkan wabah virus corona Covid-19 sebagai pandemi global pada 11 Maret 2020 lalu.
Mengutip situs worldometers.info, per Selasa (21/4/2020) pukul 05:19 GMT atau 12:19 WIB, total kasus Covid-19 terkonfirmasi di seluruh dunia tercatat 2.482.215.
Dari angka tersebut, 170.471 orang meninggal dunia, dan 652.170 telah dinyatakan sembuh.
Virus corona Covid-19 telah menginfeksi 210 negara dan teritori di seluruh dunia dan dua unit transportasi internasional.
• Pakar Epidemiologi Sebut Covid-19 Mirip Flu Spanyol, Ada Potensi Gelombang Kedua Lebih Mematikan
• STOP PRESS! Joko Widodo Resmi Melarang Warga Mudik di Tengah Pandemi Virus Corona
• Banyak OTG Sebar Covid-19, Pakar Epidemiologi: Sudah Saatnya PSBB Nasional Diberlakukan
Krisis kesehatan global yang disebabkan oleh virus corona Covid-19 terus menjadi sorotan, terutama tentang apa yang akan terjadi di masa depan akibat pandemi ini.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa bagian terburuk dari pandemi virus corona sudah semakin dekat.
Hal ini ia sampaikan di sebuah media briefing WHO pada Senin (20/4/2020) kemarin.
Mengutip laman Business Insider, Tedros mengatakan, "Percaya pada kami: yang terburuk sudah ada di depan mata."
Tedros Adhanom Ghebreyesus kemudian membandingkan virus corona Covid-19 dengan wabah flu tahun 1918.
Wabah flu tahun 1918 saat itu menewaskan 675.000 orang di Amerika Serikat dan puluhan juta orang di seluruh dunia.
Namun, Tedros berpendapat bahwa dunia saat ini sudah memiliki teknologi canggih untuk mencegah krisis semacam itu.
"Mari kita mencegah tragedi ini," kata Tedros.
"Ini adalah virus yang masih tidak dipahami oleh banyak orang," lanjutnya.
Sejumlah negara di dunia telah mulai membuka akses lagi setelah melihat adanya laju infeksi yang menurun.
Namun, beberapa dari negara tersebut, termasuk Singapura, juga mengalami kenaikan kasus lagi.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta para gubernur untuk membuka negara bagian yang mereka pimpin.
Padahal, para ahli telah memperingatkan, melakukan hal semacam itu terlalu dini dapat memicu kemunculan kasus virus corona Covid-19 yang lebih berbahaya.
Salah satu pakar penyakit infeksi ternama di AS, Dr. Anthony Fauci, mengatakan vaksin virus corona Covid-19 baru tersedia dalam waktu satu tahun atau 18 bulan mendatang.
Tedros tidak menjelaskan secara rinci mengenai bagaimana dirinya memperkirakan angka kematian akibat virus ini meningkat.
• ASN Jabar Rela Potong Gaji, Ridwan Kamil Ucapkan Terima Kasih dan Sebut Wujud Bela Negara
• Update WNI Positif Covid-19 di Luar Negeri per Selasa, 21 April 2020: 112 WNI Dinyatakan Sembuh
• Ponpes Temboro Kluster Baru Covid-19: 43 Santri asal Malaysia Positif, 1.000 Alat Rapid Test Dikirim

Pandemi Covid-19 Masih Belum Berakhir, WHO Ingatkan Jangan Buru-buru Longgarkan Lockdown
Perkembangan penyebaran wabah virus corona Covid-19 menunjukkan perlambatan di beberapa wilayah di dunia.
Sehingga, wilayah-wilayah tersebut mulai melonggarkan aturan lockdown atau pembatasan sosial.
Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan negara-negara di dunia agar berhati-hati mencabut pembatasan, yang diberlakukan untuk menekan penyebaran virus corona.
WHO melihat pelonggaran, namun di waktu bersamaan pencabutan pembatasan sosial dapat mengakibatkan kebangkitan yang mematikan.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, saat jumpa pers Jumat (10/4/2020) waktu setempat, menyatakan terjadi perlambatan yang cukup menggembirakan dari epidemi di sejumlah negara Eropa, seperti Italia, Jerman, Spanyol, dan Prancis.
Akan tetapi, masih terjadi pula akselerasi yang mengkhawatirkan di negara lain termasuk transmisi komunitas di 16 negara Afrika.
Beberapa kota di dunia mulai melonggarkan karantina wilayah seperti yang antara lain dilakukan otoritas di China yang mencabut status karantina wilayah (lock down) di Wuhan, yang merupakan pusat corona pertama kali muncul.
Namun, tak sedikit kota-kota yang periode status karantina wilayahnya justru diperpanjang karena khawatir pencabutan karantina wilayah akan memperparah penyebaran virus corona yang hingga kini belum ditemukan vaksinnya itu.
Otoritas di Afrika Selatan memperpanjang status karantina wilayah selama dua pekan dan akan berakhir pada akhir April.
Wali Kota London Shadiq Khan termasuk pihak yang tak akan mencabut status karantina wilayah London karena dia memperkirakan corona di London masih akan memuncak penyebarannya dalam waktu beberapa hari lagi.
• Ini 2 Langkah yang Diambil Ganjar Pranowo Agar Penolakan Jenazah Pasien Corona Tak Terulang Kembali
• Fakta Baru Corona, Ahli Sebut Covid-19 Berkembang Jadi 3 Jenis Berbeda, Ini Bahaya dari Mutasi Virus
Begitu pemerintah Malaysia memutuskan melanjutkan pelaksanaan lockdown, yang di negara itu disebut sebagai masa perintah kawalan pergerakan (PKP), hingga dua pekan lagi, yaitu dari 15 April sampai 28 April 2020.
Kebijakan itu diumumkan Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin dalam pidato khusus di Kantor Perdana Menteri Putrajaya, Jumat, dan diambil atas nasihat dari kementerian kesehatan dan pakar medis.
"Pelanjutan waktu PKP ini dibuat untuk memberi ruang kepada petugas-petugas kesehatan memerangi
penularan COVID-19, selain mengelakkan penularan wabah ini dalam masyarakat," katanya.
(TribunPalu.com/Clarissa Fauzany P/Rizki A.)
(Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Khawatir Kebangkitan Covid-19, WHO Ingatkan Jangan Buru-buru Longgarkan Lockdown)