Breaking News:

Sulteng Hari Ini

Senator asal Sulteng Minta Transparan soal Anggaran Operasi Pemburuan Teroris Poso

Senator asal Sulawesi Tengah, Abdul Rachman Thaha minta transparansi anggaran dalam operasi pemburuan teroris Poso kelompok MIT pimpinan Ali Kalora.

TribunPalu.com/Moh_Salam
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Sulawesi Tengah, Abdul Rachman Thaha. 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Moh Salam

TRIBUNPALU.COM, PALU - Senator asal Sulawesi Tengah, Abdul Rachman Thaha minta transparansi anggaran dalam operasi pemburuan teroris Poso, kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso pimpinan Ali Kalora.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah RI ini menyebutkan, belum diketahui berapa nilai rupiah yang dihabiskan untuk memburu jaringan Santoso hingga Ali Kalora Cs.

Sementara, masyarakat pun harus tahu anggaran untuk keamanan dan pemburuan teroris di Poso.

Dengan begitu, fungsi pengawasan dari pemerintah maupun masyarakat tetap jalan.

Baca juga: Kementan Maksimalkan Pendampingan Petani di Kawasan Food Estate

Baca juga: PETI di Parimo Tewaskan 7 Warga Ampibabo, Legislator Sulteng: Tambang Legal Saja Masih Amburadul

Baca juga: Pembangunan Infrastruktur di Palu, Menteri Luhut: Jangan Diberikan Izin Lagi

"Mekanisme penggunaan anggaran negara sama dengan kementerian lainnya, seharusnya ada audit dari Badan Pemeriksaan Keuangan," kata Abdul Rachman Thaha, Kamis (4/3/2021).

"Setahu saya anggaran ini sangat besar, bahkan capai milyaran," tambahnya.

Abdul Rachman Thaha mengatakan, bakal menelusuri besaran anggaran setiap tahunnya untuk operasi keamanan di Kabupaten Poso termasuk perpanjangan operasi dalam kurun waktu tiga bulan.

Ia juga mengaku heran, hingga saat ini ratusan pasukan Madago Raya belum bisa melumpuhkan DPO Kelompok MIT Poso pimpinan Ali Kalora.

Baca juga: Apa Itu Aplikasi e-Court untuk Sidang Cerai? Ini Cara Pakai dan Penjelasannya

Baca juga: 1.045 Wanita di Palu Terancam jadi Janda Baru Selama Pandemi Covid-19, Ini Alasannya

Baca juga: Fakta Gadis 17 Tahun Tewas di Kamar Hotel, Tak Ditemukan Bekas Hubungan Badan meski Ada Kondom Bekas

"Padahal informasi dari Satgas sendiri jumlah jaringan Ali Kalora sisa 9 orang," sebutnya.

Seperti diketahui operasi Madago Raya merupakan kelanjutan dari operasi Tinombala  sejak 10 Januari 2016.

Jauh sebelum operasi Tinombala, sudah terbentuk operasi Camar Maleo IV awal tahun 2015 merupakan gabungan TNI dan Polri dalam pengejaran Santoso dan pengikutnya.

Hingga saat ini, Operasi Madago Raya melibatkan dari satuan Brimob, Kostrad, Marinir, Raider, dan Kopassus. (*)

Penulis: Moh Salam
Editor: Kristina Natalia
Sumber: Tribun Palu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved