Melawan Stigma Kesehatan Mental, Psikolog: Stop Judging, Start Supporting

Apakah melawan stigma kesehatan mental itu diperbolehkan? Berikut penjelasan dari Psikolog Analisa Widyaningrum.

apa.org
ILUSTRASI - Penderita gangguan mental atau mental health survivor 

TRIBUNPALU.COM - Seseorang dikatakan memiliki mental yang sehat saat kondisi batinnya terasa tentram dan tenang.

Sehingga bisa merasakan nikmatnya beraktivitas sehari-hari tanpa ada paksaan dan tekanan.

Seseorang bermental sehat juga bisa memanfaatkan kemampuan serta potensinya untuk menghadapi segala rintangan dalam hidup.

Namun jika kesehatan mental seseorang terganggu, maka kemampuan berpikir dan mengendalikan emosinya akan mengarah ke perbuatan negatif.

Dikutip dari laman Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, gangguan mental bisa menyebabkan masalah dalam kehidupan sehari-hari menjadi lebih besar.

Baca juga: 3 Zodiak yang Dikenal Punya Mental yang Kuat, Leo Berwatak Keras, Capricorn Kuat Terima Cibiran

Baca juga: Sosok Felicia Hutapea, Putri Hotman Paris yang Tegur Luna Maya di Medsos Bahas Gangguan Mental

Berdampak pada Kesehatan Mental dan Mata, Berikut Bahaya Menatap Layar Komputer Terlalu Sering

Psikolog Analisa Widyaningrum menyoroti soal depresi dan gangguan mental melalui tayangan YouTubenya, Analisa Channel.
Psikolog Analisa Widyaningrum menyoroti soal depresi dan gangguan mental melalui tayangan YouTubenya, Analisa Channel. (instagram.com/analisa.widyaningrum)

Beberapa kasus sering dijumpai, orang yang mengalami kesehatan mental dianggap gila bahkan ditertawakan.

Menanggapi hal tersebut, Psikolog Klinis, Analisa Widyaningrum angkat bicara melalui akun Instagramnya di @analisa.widyaningrum.

Ia mencontohkan kehidupan seseorang yang terlihat ideal tanpa beban, tiba-tiba mengungkapkan ketidaksehatan pada mentalnya.

"Loh kok bisa sih kamu punya anxiety disorder? Padahal kamu kelihatan happy, keren kayak nggak takut atau cemas gitu," ujar Analisa saat memebrikan contoh secara tertulis.

Wanita yang pernah menjadi lulusan terbaik di Universitas Gadjah Mada (UGM) ini juga berpendapat, banyak orang yang menganggap kejadian tersebut sebagai manusia yang kurang bersyukur.

"Nggak jarang kayak gitu dianggap sebagai manusia kurang bersyukur," sambungnya.

Baca juga: Psikolog Sebut Perhatian pada Kesehatan Mental di Palu Masih Rendah Pasca TrioBencana

Kondisi Mental Tim Indonesia seusai Dipaksa Mundur dari All England, PBSI: Harus Dikubur Dalam-dalam

Dalam tulisan yang diunggah Analisa pada Senin (4/4/2021) itu juga memberikan tips saat ada seseorang yang sedang mengungkapkan kondisi kesehatan mentalnya.

Pertama, harus mengapresiasi keberanian orang tersebut.

Stigma terkait kesehatan mental merupakan penyebab seseorang enggan mengungkapkan kondisi mental yang sesungguhnya.

Bahkan tak jarang ditertawakan atau justru malah dibilang gila.

Padahal gangguan mental sangat lazim dialami oleh manusia.

Tak Selalu Bermakna Negatif, Ternyata Bicara Sendiri Miliki Manfaat Baik untuk Kesehatan Mental

Jangan Terjebak Lingkaran Depresi, Psikolog: Kesehatan Mental Harus Lebih Diperhatikan

Sehingga diperlukan apresiasi kepada mereka yang sudah mau berbagi dan bercerita tentang kondisi mentalnya.

"Itu adalah hal utama dan paling utama yang mudah untuk kita lakukan," sambungnya.

Kedua, pemberian empati yang diucapkan dengan kalimat-kalimat dukungan dan perhatian atas apa yang mereka rasakan.

Analisa menyarankan jika tidak bisa menanggapi curahan hati mereka, lebih baik mendengarkan saja.

Menjadi pendengar yang baik akan menimbulkan rasa 'diperhatikan' pada diri seorang mental health survivor.

"Sentuhan-sentuhan hangat lain juga bisa kita berikan, ini menunjukkan kalau kita peduli padanya," kata Analisa.

Baca juga: Minions Siap Comeback di German Open 2021, Marcus Gideon: Fokus Jaga Kondisi Tubuh dan Mental Dulu

Ketiga, bisa menahan emosi saat mendengarkan keluhan mereka.

Analisa menjelaskan apabila sedang dicurhati seseorang, maka rasa gatal ingin berkomentar akan menghampiri.

Terlebih jika apa yang mereka hadapi tidak seberat beban yang dimiliki pendengar.

"Pasti ada rasa mau komentarin, 'kamu nggak seberapa, coba si XXX lebih parah dari kamu'," ujarnya saat memberi contoh.

Analisa membenarkan jika kadar kesulitan setiap orang memang berbeda-beda.

Sehingga, ia mengimbau untuk tidak saling membandingkan satu sama lain.

"Karena hal itu akan membuatnya semakin terpuruk. Sejatinya mereka cuma butuh dipahami," tulis Analisa dalam microblognya.

Tak Hanya untuk Tubuh, Puasa Juga Bermanfaat bagi Kesehatan Mental, Ini Penjelasan Dokter

Kemudian yang terakhir adalah menawarkan bantuan.

"So, apa yang bisa aku bantu?" contoh Analisa kepada para pembaca.

Apabila tidka bisa membantu mereka untuk mendapatkan jawaban atas masalah-masalahnya, maka mempertemukannya dengan orang yang tepat bisa jadi bantuan.

Analisa mengimbau untuk pelan-pelan mengedukasi kepada orang lain terkait kesehehatan mental.

"Stop judging, start supporting," pungkas Analisa.

Ia mengatakan jika kesehatan mental itu nyata adanya, dan bisa ditangani oleh profesional.

Sehingga diperlukan dukungan terhadap para mental disorder survivor.

(TribunPalu.com/Hakim)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved