Sabtu, 2 Mei 2026

Palu Hari Ini

Terjadi Kerumunan Jelang Buka Puasa, Dinkes Kota Palu: Serba Salah

Sering terjadinya kerumumnan jelang buka puasa menjadi perhatian Dinas Kesehatan Kota Palu.

Tayang:
TribunPalu.com/Alan_Sahril
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, dr Husaema 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Alan Sahril

TRIBUNPALU.COM, PALU - Sering terjadinya kerumunan jelang buka puasa menjadi perhatian Dinas Kesehatan Kota Palu.

Apalagi pada Senin (19/4/2021) tercatat penambahan 81 kasus baru positif Covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu dr Husaema saat ditemui di ruang kerjanya Jl Balai Kota Utara, Kelurahan Tanamodindi, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah mengatakan fenomena tersebut menjadi dilema tersendiri bagi masyarakat dan juga Pemerintah Kota Palu.

Kerumunan masih sering terjadi meski Pemda telah mengimbau setiap kepala kelurahan selalu mensosialisasikan penerapan protokol kesehatan saat beraktifitas di luar rumah.

Baca juga: TPS Hanya Boleh Diisi Sore Hari, DLH Minta Lurah Kontrol Jam Pembuangan Sampah

Baca juga: Jadi Senjata Dulang Keuntungan, PO Bus di Ciputat Naikkan Tarif sejak Diputuskannya Larangan Mudik

Baca juga: Ternyata Pascakerumunan 3000 Orang Langgar Prokes di Sidang Rizieq Shihab, Ada 20 Reaktif Covid-19

"Kan sudah ada surat edaran yang diterbitkan Pak Wali Kota agar pihak kecamatan dan kelurahan sebagai posko terdepan dalam pengawasan, agar mensosialisasikan penerapan protokol kesehatan saat beraktifitas sehari-hari," kata Husaema Kepada TribunPalu.com, Selasa (20/4/2021) pagi.

Ia menyebut pemerintah Kota Palu sudah berupaya semaksimal mungkin dengan terus menghimbau agar tidak terjadi kerumunan saat jajan makanan untuk berbuka puasa.

"Dengan keadaan ekonomi kita yang belum stabil dan masyarakat sedang berupaya untuk memulihkan prekonomiannya, ini satu sisi kita ingin menegakkan aturan sesuai protokol satu sisi hati kita berbica mengenai upaya masyarakat dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya," terang Husaema.

Husaema mengatakan, untuk menekan angka penularan Covid-19, perlu kerjasama semua sektor tidak terkecuali penjual dan pembeli jajanan berbuka puasa.

"Inilah yang membuat kita tidak bisa terlalu menekan, namun harus kesadaran dari pembeli dan penjual dalam upaya menekan penularan virus corona," tuturnya.

Ia juga menyebutkan, masyarakat yang membeli makanan untuk berbuka puasa pada sore hari merupakan hal wajar.

Sebab, makanan jika terlalu cepat dibeli dan lama disimpan akan cepat basi dan tidak bisa dimakan nantinya.

Baca juga: Sosok Paniel Kagoya, Habiskan Uang Hingga Miliaran Rupiah Untuk Beli Persediaan Sejata KKB

Baca juga: Peringatan Dini Cuaca Ekstrem BMKG, Rabu 21 April 2021: Waspada Angin Kencang di Maluku Utara

Baca juga: Sanksi Tegas bagi Warga Kelurahan Talise Valangguni yang Buang Sampah Sembarangan 

"Contohnya santan, masaknya jam 12 dan dikonsumsi saat berbuka puasa, kalau perutnya sensitif bisa terjadi sakit perut, jadi memang serba salah," ucap Huasema.

"Kalau makanan berkuah itu cepat sekali basi sehingga kalau mau beli dan menjual makanan berbuka puasa memang kebanyakan dijajakan sore hari," tambahnya.

Huasema mengatakan, fenomena berburu makanan untuk berbuka puasa tidak menjadi masalah.

Hanya saja dalam melakukan transaksi jual beli tetap mengedepankan protokol kesehatan.

"Sebenarnya tidak ada persoalan selama menjaga protokol kesehatan," ucapnya.

"Saya tidak bisa menekan saudara-saudara kita dalam mencari rezeki, tapi saya menghimbau kita kan masih dalam masa pandemi agar protokol kesehatan diterapkan," tutur Husaema.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved