Omicron Jadi Varian Terbaru Covid-19, Mengapa Virus Terus Bermutasi? Ini Penjelasannya
Varian Omicron dilaporkan memiliki gejala yang lebih ringan, termasuk tidak ada tanda kehilangan indera penciuman dan perasa pada pasiennya.
TRIBUNPALU.COM - Varian Omicron yang merupakan mutasi terbaru dari Covid-19 kini sedang menjadi perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Penelitian tengah dilakukan pada virus ini untuk memastikan bahayanya dibandingkan varian lain.
Varian Omicron dilaporkan memiliki gejala yang lebih ringan, termasuk tidak ada tanda kehilangan indera penciuman dan perasa pada pasiennya.
Namun, banyak yang menduga penyebarannya bisa lebih cepat, bahkan dibandingkan varian Delta.
Hal ini tentunya membuat banyak orang kembali khawatir mengenai pandemi yang kondisinya tak juga mereda.
Terlebih lagi, sejumlah negara sudah mulai mengendurkan aturannya terkait soal pandemi termasuk mengizinkan aktivitas perkantoran dan tatap muka di sekolah.
Dikutip dari akun edukasi kesehatan, @pandemictalks, varian baru disebut karena virus mendapatkan peluang untuk bermutasi ketika berkembang biak.
Peluang terbentuknya mutasi semakin meningkat setiap virus berpindah inang.
Satu-satunya cara melawan mutasi yakni dengan cara meminimalisasi peluang tersebut.
Hal ini bisa dilakukan dengan memutus mata rantai dan penularan virus di antara makhluk hidup.
"Virus memang kodratnya untuk terus mengalami mutasi tiap berkembang biak di dalam tubuh makhluk hidup."
"Ada varian baru menunjukkan masih ada banyak penularan di masyarakat," kata ahli penyakit dalam, RA Adaninggar,dr,SpPD yang juga inisiator Pandemic Talks.
Pencegahan terbaik untuk melindungi diri dari varian Omicron bisa dilakukan dengan tetap disiplin melakukan protokol kesehatan.
Termasuk, menjalankan prinsip 5M seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/petugas-dinas-kesehatan.jpg)