Netanyahu Ajukan Syarat Baru, Peluang Gencatan Senjata Israel-Hamas Kian Menipis

Langkah ini dinilai dapat menghambat kemajuan dalam proses negosiasi yang selama ini telah berjalan alot.

Editor: Regina Goldie
Instagram @b.netanyahu
BENJAMIN NETANYAHU - Foto ini diambil dari Instagram Netanyahu pada Selasa (25/3/2025), memperlihatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memperkenalkan syarat baru dalam proposal gencatan senjata selama 60 hari dengan Hamas, yang dinilai memperkecil peluang tercapainya kesepakatan damai. 

TRIBUNPALU.COM - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memperkenalkan syarat baru dalam proposal gencatan senjata selama 60 hari dengan Hamas, yang dinilai memperkecil peluang tercapainya kesepakatan damai.

Syarat kontroversial tersebut adalah penolakan Netanyahu untuk menarik seluruh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dari Jalur Gaza selama masa gencatan senjata.

Langkah ini dinilai dapat menghambat kemajuan dalam proses negosiasi yang selama ini telah berjalan alot.

“Saya ingin memastikan pembebasan semua sandera kami, mengakhiri kekuasaan Hamas di Gaza, dan menjamin bahwa Gaza tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel,” ujar Netanyahu, seperti dikutip dari The Times of Israel.

Baca juga: Pemkab Tojo Una una Bentuk Satgas PATBM untuk Cegah Kekerasan Terhadap Anak

Peta Penempatan IDF di Gaza Ditolak Hamas dan AS

Dalam usulan terbaru yang disampaikan Israel pekan lalu, termasuk disertakannya peta penempatan pasukan IDF di wilayah Gaza selama masa gencatan senjata.

Proposal tersebut langsung ditolak oleh Hamas dan juga menuai kritik dari Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff.

Menurut laporan Sky News, Witkoff menyebut peta tersebut menyerupai rencana Smotrich, merujuk pada Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, yang dikenal berhaluan sayap kanan ekstrem. Hal ini memperkuat kesan bahwa Israel belum mengubah tujuan jangka panjangnya: pemulangan para sandera dan penghancuran total Hamas sebagai entitas politik dan militer.

“Kami ingin IDF berada di setiap meter persegi Gaza, kemudian menyerahkan pengawasan wilayah kepada pihak lain,” ungkap seorang pejabat senior Israel kepada Sky News.

Pejabat itu juga menambahkan bahwa harapan akan tercapainya gencatan senjata permanen dinilai “sangat kecil”, kecuali jika Hamas benar-benar dihapus dari panggung politik dan militer di Gaza suatu syarat yang jelas tidak mungkin diterima oleh kelompok tersebut.

Baca juga: TP-PKK Tojo Una-una Gandeng Kaltim untuk Inovasi Program 10 Pokok PKK

Trump Klaim Gencatan Senjata Sudah Dekat

Di tengah ketegangan tersebut, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, justru menyatakan optimismenya bahwa kesepakatan gencatan senjata akan segera tercapai.

“Kita sangat dekat dengan kesepakatan,” kata Trump dalam wawancara eksklusif dengan Fox News. “Kami ingin perdamaian, kami ingin para sandera kembali. Dan saya rasa kita hampir sampai ke titik itu.”

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved