Kamis, 9 April 2026

Haji 2025

Nota Diplomatik Dubes Saudi, Catatan Penting dari Dubes Arab Saudi untuk Indonesia

Nota Diplomatik tersebut dikeluarkan pada 16 Juni 2025 dan pada dasarnya bersifat tertutup, ditujukan khusus kepada tiga pejabat.

Editor: Regina Goldie
TRIBUNNEWS.COM/MEDIA CENTER HJI/MCH 2025/DEWI AGUSTINA
ANCAMAN BOM - Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Hilman Latief di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Selasa (17/6/2025) malam. Sebanyak 442 jemaah haji Kloter JKS 12, penumpang pesawat Saudia Airlines nomor penerbangan SV-5762 yang sebelumnya mendapat ancaman teror bom akan diterbangkan ke Bandara Soekarno Hatta, Rabu (18/6/2025) pukul 08.30 WIB pagi ini. (Media Center Haji/MCH 2025) 

TRIBUNPALU.COM - Duta Besar Arab Saudi di Jakarta telah mengeluarkan sebuah nota diplomatik yang berkaitan dengan evaluasi pelaksanaan ibadah haji tahun 1446 H/2025 M.

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama, Hilman Latief, menjelaskan bahwa nota tersebut berhubungan dengan dinamika pelaksanaan ibadah haji yang telah diselesaikan, dan klarifikasinya sudah disampaikan kepada Kementerian Haji Arab Saudi.

Nota Diplomatik tersebut dikeluarkan pada 16 Juni 2025 dan pada dasarnya bersifat tertutup, ditujukan khusus kepada tiga pejabat, yaitu Menteri Agama, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, serta Direktur Timur Tengah di Kementerian Luar Negeri.

“Ada beberapa isu yang menjadi catatan dan tantangan saat masa operasional. Alhamdulillah sebagian besar sudah bisa kita atasi di lapangan dan kita sampaikan penjelasannya kepada otoritas setempat," kata Hilman Latief melalui keterangan tertulis, Sabtu (21/6/2025). 

"Surat tersebut berbicara tentang apa yang kita lakukan sejak dua sampai empat minggu lalu, yang tetap dimasukkan sebagai catatan untuk perbaikan oleh penyelenggara haji,” tambahnya. 

Hilman Latief menjelaskan lima hal pokok terkait dinamika haji yang sudah diselesaikan dan tercakup dalam nota diplomatik Dubes Saudi di Jakarta. 

Pertama, masalah koherensi data jamaah, baik yang masuk dalam E-Haj, Siskohat Kementerian Agama, dan manifest penerbangan. 

Dalam data tersebut, ditemukan ada beberapa nama jemaah yang berbeda-beda antara manifest dan jemaah yang ikut terbang dalam pesawat. 

"Alhamdulillah bisa kita tangani pada awal Mei di mana dalam satu pesawat ternyata ada beberapa jemaah yang berbeda Syarikah,” kata Hilman. 

Menurut Hilman, problem ini muncul dan tidak bisa dilepaskan dari kondisi di lapangan, termasuk di embarkasi. 

Pada proses pemvisaan, ada beberapa nama yang batal berangkat karena beberapa sebab sehingga harus diganti. 

Tidak jarang proses pembatalan ini juga berlangsung secara tiba-tiba, baik karena batal karena sakit, meninggal atau sebab lainnya. 

“Ini sempat ramai, lalu kami jelaskan. Kami tentu tidak bisa juga membiarkan pesawat itu kosong karena ada orang yang sakit atau meninggal. Ketika teman-teman di lapangan masih memungkinkan untuk bisa mengganti, maka mereka akan menggantikan dengan penumpang berikutnya,” ungkap Hilman.

Terkait hal ini, Hilman mengatakan rekonsiliasi data setiap hari dan setiap malam dilakukan oleh tim Penyelenggara Haji dan Umrah atau misi haji Indonesia melalui Kantor Urusan Haji, dengan Kementerian Haji dan Syarikah. 

"Kita bahu-membahu setiap hari untuk melakukan konsolidasi. Itu sudah selesai dan alhamdulillah lancar sebagaimana saat ini jemaah juga sudah bisa kembali ke Tanah Air,” katanya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved