OPINI
OPINI: Menuju Indonesia Bebas Kekerasan - Refleksi Tragedi yang Terulang
Kejadian ini bukan sekadar kecelakaan tunggal, tetapi cerminan dari kultur kekerasan yang mengakar dalam berbagai lini kehidupan.
|
Editor:
Fadhila Amalia
Handover
OPINI - Tragedi yang terjadi di Senayan pada Kamis (28/8/2025) malam menjadi tamparan keras bagi kita semua. Seorang pengemudi ojek online tewas terlindas kendaraan taktis Brimob dalam demo, sebuah peristiwa yang mengingatkan betapa rapuhnya jalinan kemanusiaan ketika kekerasan menjadi bahasa utama dalam menyelesaikan konflik.
Kita semua bertanggung jawab menciptakan Indonesia bebas kekerasan.
Mulai dari cara kita berinteraksi dengan tukang parkir, pengemudi ojol, atau siapa pun yang kita temui setiap hari.
Pendidikan antikekerasan bukan hanya tugas institusi formal, tetapi komitmen setiap warga negara untuk membangun peradaban yang lebih beradab.
Mari jadikan tragedi ini titik balik menuju Indonesia yang lebih manusiawi, di mana konflik diselesaikan dengan dialog, bukan tindak kekerasan; dan setiap nyawa dihargai, termasuk mereka yang mencari nafkah dengan motor di jalanan kota yang keras ini.(*)
Berita Terkait
Berita Terkait: #OPINI
OPINI: Tunjangan Guru Adalah Hak , Bukan Beban yang Dibagi ke Rakyat |
![]() |
---|
OPINI: Gas Air Mata dan Hilangnya Nurani, Polisi Bukan Algojo dan Rakyat Bukan Musuh |
![]() |
---|
Pembubaran DPR, Perlukah? Apa Dampaknya Bagi Negara |
![]() |
---|
OPINI: Pohon Aren – Harta Terpendam dari Hutan Sulawesi |
![]() |
---|
Teruntuk Menteri Bahlil: Jangan Cuma Hadiri Musda Golkar, Tindak Juga Tambang Ilegal di Sulteng |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.