OPINI
Durian, Jalan Baru Ekonomi Sulawesi Tengah
Buah yang dijuluki “raja buah” ini kini mulai menunjukkan taringnya sebagai komoditas strategis daerah. Dari kebun-kebun rakyat di Sigi.
Oleh : Ir Yusak Jore Pamei, MA
Pemerhati sosial budaya, pegiat literasi, dan Kepala Divisi Riset dan Knowledge Management di Karsa Institute Palu, Sulawesi Tengah
TRIBUNPALU.COM - Selama ini, ketika berbicara tentang Sulawesi Tengah, yang terlintas di benak banyak orang adalah tambang.
Padahal, ada potensi lain yang tak kalah besar, bahkan lebih ramah lingkungan dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat: durian.
Buah yang dijuluki “raja buah” ini kini mulai menunjukkan taringnya sebagai komoditas strategis daerah. Dari kebun-kebun rakyat di Sigi.
Parigi Moutong hingga Poso, durian tumbuh subur dan menjadi sumber penghidupan ribuan petani.
Tidak berlebihan jika kita mulai melihat durian sebagai jalan baru bagi ekonomi Sulawesi Tengah.
Potensi Besar dari Alam
Sulawesi Tengah memiliki keunggulan yang tidak dimiliki semua daerah: kondisi alam yang sangat cocok untuk budidaya durian. Tanah yang subur, curah hujan yang cukup, serta iklim tropis yang stabil menjadikan wilayah ini “rumah ideal” bagi tanaman durian.
Produksi durian di daerah ini pun tergolong tinggi, dengan ratusan ribu ton per tahun. Ini menunjukkan bahwa durian bukan sekadar komoditas musiman, melainkan sudah menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.
Dari Lokal ke Pasar Dunia
Kini, durian Sulawesi Tengah tidak lagi hanya dinikmati di pasar lokal. Permintaan dari luar negeri, terutama dari Tiongkok, membuka peluang besar bagi petani dan pelaku usaha.
Ekspor durian, baik dalam bentuk segar maupun beku, terus meningkat. Ini menjadi bukti bahwa durian kita mampu bersaing di pasar global.
Gubernur Anwar Hafid bahkan menegaskan komitmennya untuk mendorong komoditas ini menjadi ikon baru daerah.
“Kami pemerintah daerah akan berusaha semaksimal mungkin agar durian ini menjadi ikon baru bagi Sulawesi Tengah.”
| Jalan Terjal Gen Z, Membedah Realitas Ekonomi, Mentalitas, dan Dukungan Informal |
|
|---|
| Koperasi Desa di Lingkar Tambang : Menggali Ekonomi atau Menggali Bencana Ekologis? |
|
|---|
| Transparansi Investasi Sawit di Tojo Una-Una, Kunci Kepercayaan Publik |
|
|---|
| Ketimpangan dan Buruh Banggai yang Terabaikan |
|
|---|
| Berani Cerdas, Berani Sehat : Berani Menghadapi Realitas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Pemerhati-sosial-budaya-pegiat-literasi-dan-Kepala-Divisi-Riset-dan-Knowledge.jpg)