OPINI
Suara Keras, Nalar Sunyi
Kritik terhadap pemerintah adalah hak demokrasi, dan pemerintah memang wajib membuka ruang dialog seluas mungkin.
Saya menutup layar. Mata lelah, perut lapar.
Pergi ke warung soto langganan.
Kuah bening, nasi panas, ayam suwir.
Di sini tidak ada trending topic.
Baca juga: Siap Siaga Cegah Karhutla, Wamen Ossy Imbau Pemegang HGU Galakkan Pencegahan
Tidak ada framing.
Hanya percakapan sederhana antar orang yang saling mendengar tanpa perlu menghitung likes atau shares.
Mungkin di situlah letak nalar publik yang sebenarnya. Bukan di timeline yang gaduh, tapi di bangku kayu yang sederhana.
Di mana suara tidak perlu viral untuk didengar.
Dan kebijakan tidak perlu tumbang hanya karena teriakannya paling kencang. (*)
| Membaca Ulang Satgas Tambang: Di Antara Respons Cepat dan Kematangan Nalar Publik |
|
|---|
| Durian, Jalan Baru Ekonomi Sulawesi Tengah |
|
|---|
| Jalan Terjal Gen Z, Membedah Realitas Ekonomi, Mentalitas, dan Dukungan Informal |
|
|---|
| Koperasi Desa di Lingkar Tambang : Menggali Ekonomi atau Menggali Bencana Ekologis? |
|
|---|
| Transparansi Investasi Sawit di Tojo Una-Una, Kunci Kepercayaan Publik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/as8g-78sagd87ajpggg.jpg)