Saat Api di Kilang Minyak Balongan Mulai Memadam, Suara Ledakan Justru Terdengar
Setelah Rabu (31/3/2021) pagi api mulai memadam, justru terdengar suara ledakan pada pukul 09.30 WIB. Ledakan itu membuat kobaran api makin besar.
TRIBUNPALU.COM - Pada Senin (29/3/2021) dini hari, tangki kilang minyak milik Pertamina di Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat terbakar.
Setelah Rabu (31/3/2021) pagi api mulai memadam, justru terdengar suara ledakan pada pukul 09.30 WIB.
Ledakan itu membuat kobaran api semakin membakar bangki BBM.
Tak hanya suara ledakan saja, juga muncul kepulan asap hitam yang semakin menebal pagi tadi.
Dikutip dari laman Tribun Jabar, seorang saksi yang merupakan warga Desa Sukaurip, Wahyudi mengatakan jika ledakan muncul tidak dibarengi dengan getraan, layaknya ledakan seblumnya.
Baca juga: Update Kebakaran Kilang Balongan,Indramayu, Pertamina: Dua Tangki Sudah Bisa Dipadamkan
Baca juga: Trauma atas Kejadian Kebakaran Kilang Minyak Balongan, Warga Minta Pertamina Beli Rumah Mereka
• Api Kebakaran Kilang Minyak Belum Padam, Kini Indramayu Banjir akibat Hujan Deras

"Ledakan satu kali lagi, sempat panik lagi," ujar dia kepada Tribuncirebon.com.
Pada waktu itu, Wahyudi menggambarkan situasi yang terjadi saat suara ledakan tersebut terdengar.
Ia sedang mengecek lokasi titik kebakaran, dan warga berhamburan setelah mendengar suara tersebut.
Bahkan beberapa warga sudah memiliki niat untuk kembali ke rumah, namun akibat adanya ledakan itu, mereka memilih kembali tinggal di pengungsian.
Wahyudi membernarkan jika di lokasi kejadian juga terdapat beberapa petugas.
• Mengenal Terminator Canon Foam, Alat Pemadam Kebakaran Kilang Minyak Pertamina
• Kebakaran Kilang Minyak Pertamina Indramayu Disebut Karena Sambaran Petir, Ini Analisis BMKG
Mereka membantu menenangkan warga yang panik serta ketakutan saat melihat insiden itu.
"Tapi tadi ada petugas yang menenangkan, tenang-tenang katanya, jadi tenang lagi," ujarnya.
Terlepas dari ledakan yang beberapa kali sempat terdengar dari lokasi kebakaran kilang minyak Balongan, beberapa pihak justru meminta Pertamina untuk lebih berhati-hati dalam menciptakan sistem di kilang minyak.
Salah satunya imbauan dari Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak, yang mengatakan jika insiden ini menambah deretan kisah tragis kecelakaan dan bencana yang dikarenakan oleh energi ekstraktif.
Diwartakan oleh TribunPalu.com, pada tahun 2014 tepatnya pada 16 Februari telah terjadi kebakaran kilang minyak di Dumai, Riau.
Tak hanya itu saja, pada 2019 terjadi insiden tumpahan minyak mentah dari operasi PT Pertamina Hulu Energi.
• Tiga Orang Terpental ke Sawah dari Mobil Bak saat Ledakan Kilang Minyak, Belum Ada Informasi Lanjut
Baca juga: Soal Kebakaran Kilang Pertamina, Pengamat Nilai Ada Pihak Tak Ingin Indonesia Punya Kilang Minyak
Akibat dari tumpahan minyak mentah tersebut, kehidupan perekonomian masyarakat dan ekosistem darat serta perairan sekitar ikut terkena dampak buruknya.
Kemudian menyusul kejadian kebakaran di Kilang Pertamina di Balikpapan pada 15 Agustus 2019.
Leonard menekankan agar Pertamina melakukan langkah mitigasi yang menyeluruh pada resiko kebakaran kilang.
Tak hanya itu, ia juga meminta Pertamina untuk memikirkan dampak bagi perekonomian dan keberlangsungan kehidupan masyarkat sekitar.
Baca juga: Tanggapi Kebakaran Kilang Minyak di Balongan, Greenpeace: Pertamina Harus Lakukan Mitigasi Mendalam
“Berkaca pada kerugian di berbagai kejadian sebelumnya, tentunya kita tidak ingin deretan bencana yang ditimbulkan oleh sektor industri ekstraktif (minyak bumi, batu bara) ini terus berlanjut. Ketergantungan kita terhadap energi ekstraktif harus segera dipangkas," kata Leonard dikutip dari laman Tribunnews.com.
Bauran energi nasional harus memberikan porsi terbesar bagi energi terbaru, seperti surya dan bayu (angin).
Strategi Jangka Panjang Rendah Karbon dan Ketahanan Iklim (LTS-LCCR) Indonesia harus memberikan arah kebijakan konkrit untuk mewujudkan bauran energi tersebut.
Menurut Leonard, tak hanya pihak Pertamina saja yang memikirkan hal tersebut, tetapi juga pemerintah yang harus lebih berambisi dalam revisi penurunantarget emisi.
(TribunPalu.com/Hakim)