Parimo Hari Ini
20 Tahun TPA Tak Dikelola, Warga Jononunu Desak Pemerintah Bertindak
Dalam forum tersebut, perwakilan masyarakat, Arif, menegaskan bahwa TPA telah menjadi sumber masalah lingkungan dan kesehatan bagi warga desa.
Penulis: Abdul Humul Faaiz | Editor: Fadhila Amalia
Laporan Wartawan TribunPalu.com, Abdul Humul Faaiz
TRIBUNPALU.COM, PARIMO - Warga Desa Jononunu, Kecamatan Parigi Tengah, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, meluapkan kekecewaan mereka atas keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang sudah berlangsung puluhan tahun.
Hal itu mereka sampaikan langsung kepada Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, dalam pertemuan di ruang rapat bupati, Rabu (18/6/2025).
Baca juga: Anwar Hafid dan Kadin Sepakat Perkuat Ekonomi Daerah, Fokus pada Perikanan, Pertanian dan UMKM
Dalam forum tersebut, perwakilan masyarakat, Arif, menegaskan bahwa TPA telah menjadi sumber masalah lingkungan dan kesehatan bagi warga desa.
“Sudah dua puluh tahun kami hidup berdampingan dengan sampah, tapi tidak ada pengelolaan yang memadai,” ujar Arif di hadapan bupati.
Ia menyebutkan, pencemaran air akibat rembesan limbah sudah merusak lahan perkebunan milik warga di sekitar lokasi TPA.
Baca juga: Pemprov Sulteng Resmi Bentuk Tim Terpadu Berantas Kendaraan ODOL
“Banyak kelapa mati, cokelat mati, bahkan durian kami yang dulu manis, sekarang hambar. Tidak ada rasa sama sekali,” katanya.
Menurut Arif, selain mencemari kebun, TPA juga menyebabkan gangguan kesehatan seperti gatal-gatal dan potensi penyakit menular di lingkungan warga.
Ia juga menyoroti bau busuk yang menyebar hingga ke dalam permukiman dan tempat ibadah warga, terutama saat penimbunan sampah dilakukan.
“Waktu salat, kami pernah dikira ada yang kentut di masjid, padahal bau busuk dari TPA yang masuk sampai ke dalam,” ungkapnya.
Baca juga: Lisa Mariana Disebut Tak Konsisten soal Tuntutan, Kuasa Hukum RK: Yakin 1000 Persen Ditolak
Masalah lain yang diungkap warga adalah truk pengangkut sampah yang tidak ditutup hingga menyebabkan popok dan limbah berserakan di jalanan.
“Beberapa waktu lalu, popok-popok itu berserakan di jalan. Kami sempat rekam videonya sebagai bukti,” ujar Arif lagi.
Jarak TPA dari perkampungan juga dianggap tidak layak karena terlalu dekat, hanya sekitar kurang dari satu kilometer dari pemukiman penduduk.
Selain itu, Arif menyebut para petugas pengelola sampah di lapangan tidak menggunakan alat pelindung diri yang semestinya.
Ia juga mengungkapkan bahwa masyarakat pernah dijanjikan penutupan TPA bila tidak dikelola dengan baik dalam waktu satu tahun.
Baca juga: DPRD Palu Soroti Dampak Tambang Galian C untuk Pembangunan IKN di Seminar Nasional Kaltim
“Pak Longki dulu bilang begitu. Tapi sampai hari ini, 20 tahun sudah berlalu, tidak ada yang berubah,” tegasnya.
Arif menilai, warga Jononunu seolah hanya menjadi tempat pembuangan untuk semua yang buruk dan tidak diinginkan wilayah lain.
“Setiap yang busuk-busuk diarahkan ke desa kami. Kami lelah dan sudah kehilangan kepercayaan,” tutup Arif dengan nada kecewa.(*)
| Bertahun-tahun Pinjam Jamban Tetangga, Warga Desa Gangga Parigi Moutong Kini Punya MCK |
|
|---|
| Dikukuhkan Jadi Ayah GenRe, Bupati Parigi Mourong Siap Dampingi Remaja dalam Lima Hak Dasar |
|
|---|
| Pansus DPRD Parimo Keluarkan 10 Rekomendasi, Dorong Evaluasi Proyek hingga Tertib Aset Daerah |
|
|---|
| Puslitbang Polri Evaluasi Kendaraan Dinas di Polres Parigi Moutong |
|
|---|
| PLN ULP Parigi Umumkan Pemadaman Listrik Hari Ini Selasa 15 Juli 2025, Cek Lokasi Terdampak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/20-Tahun-TPA-Tak-Dikelola-Warga-Jononunu-Desak-Pemerintah-Bertinda.jpg)