Kamis, 16 April 2026

Sulteng Hari Ini

LBH Rakyat Dampingi mahasiswa Korban Represif Polisi Ke Komda HAM

Ibnu menyatakan bahwa dirinya diseret oleh pihak kepolisian tepat didepan Bank BTN Jl Sudirman sedangkan Blaurl Asiddiq.

Penulis: Supriyanto | Editor: Regina Goldie
HANDOVER
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Rakyat dampingi mahasiswa yang menjadi korban represifitas aparat kepolisian untuk melapor kepada Komda HAM pada Selasa (26/8/2025). 

Pada 25 Agustus 2025, terjadi aksi demonstrasi besar-besaran di Kota Palu yang dipusatkan di depan Kantor DPRD Sulawesi Tengah, Jalan Sam Ratulangi.

Aksi ini digerakkan oleh gabungan mahasiswa dan masyarakat yang menamakan diri sebagai Aliansi Rakyat Kota Palu Menggugat.

Mereka turun ke jalan untuk menyuarakan berbagai tuntutan terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat.

Aksi dimulai sejak pukul 11.30 WITA dan awalnya berlangsung damai.

Massa melakukan orasi dan membentangkan spanduk berisi tuntutan mereka. Beberapa hal yang disoroti antara lain penolakan terhadap kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB-P2), pembubaran DPR dan DPRD, penolakan terhadap RKUHP, evaluasi terhadap kebijakan pertambangan, desakan pengesahan RUU Perampasan Aset, serta jaminan sosial untuk kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak.

Baca juga: Polsek Parigi Tempuh Langkah Humanis Redam Aksi Warga Segel Kantor Desa Bambalemo

Mereka juga menagih janji pemerintah soal penciptaan lapangan kerja dan menuntut perbaikan kualitas pendidikan, termasuk kenaikan gaji guru serta evaluasi program Makan Bergizi (MBG).

Memasuki sore hari, situasi mulai memanas ketika massa mulai mendorong pagar pengaman DPRD dan mencoba menerobos masuk ke gedung.

Pihak keamanan sempat menawarkan pertemuan melalui perwakilan, namun ditolak oleh massa yang menuntut dialog terbuka.

Akibat desakan tersebut, delapan barikade pagar ambruk dan bentrokan pun pecah antara demonstran dan aparat.

Sekitar pukul 15.00 WITA, polisi mulai menggunakan water cannon untuk membubarkan massa. Ketegangan memuncak ketika sejumlah demonstran melemparkan batu dan merusak fasilitas sekitar, yang kemudian dibalas oleh polisi dengan tembakan gas air mata.

Aksi ini mengakibatkan beberapa orang luka-luka, baik dari pihak demonstran maupun aparat kepolisian. Di antaranya ada yang mengalami luka robek di kepala, bibir, dan tangan.

Selain itu, ribuan mahasiswa Universitas Tadulako juga melakukan konvoi sepeda motor ke lokasi aksi, menambah jumlah massa secara signifikan.

Di tengah kericuhan, terlihat juga pembakaran ban oleh demonstran sebagai bentuk perlawanan simbolik.

Aksi ini menjadi salah satu gelombang protes terbesar di Palu dalam beberapa tahun terakhir, menandai meningkatnya ketegangan antara masyarakat dan pemerintah daerah atas berbagai isu kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat kecil. (*)

 

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved