OPINI
Dramaturgi Politik Pilgub Sulteng 2024
Satu hal yang pasti bahwa dalam skenario panggung depan, para politisi itu dalam setiap gerak alur komunikasinya akan menuai kendala-kendala berarti.
Dr Attock Suharto, M.Si
(Analis Komunikasi Politik UIN Datokarama Palu)
TRIBUNPALU.COM - Perkembangan politik di Sulawesi Tengah (Sulteng) jelang pelaksanaan Pemilihan Kepala dDaerah (Pilkada) serentak 2024 semakin menarik untuk disimak.
Arus pergerakan komunikasi dan intensitas interaksi sosial antarfigur adalah bagian dari fase perjalanan panjang memasuki tahapan demi tahapan pesta demokrasi di tingkat lokal itu.
Interaksi komunikasi politik yang menggelinding seterusnya menjadi fenomena tersendiri dikarenakan setiap figur, tokoh dan perwakilan partai politik yang untuk dan atas nama bakal calon kepala daerah harus menyiapkan dua skenario politik.
Yaitu skenario menghadapi pilkada dengan merujuk pada hasil pemilu, apakah hasil Pemilu 2019 ataukah hasil Pemilu 2024 yang akan dipedomani setiap parpol untuk mengusung kandidat calon kepala daerah.
Konsepsi komunikasi politik tentu tidak terlalu berbeda (kalau tidak ingin dikatakan mirip) jika salah satunya diterapkan pada pilkada November mendatang.
Jika saja, KPU menetapkan hasil Pemilu 2019 kemarin menjadi acuan, maka di Sulteng tetap bisa mengusung hingga empat pasang calon seperti wacana yang sedang berkembang saat ini di tengah masyarakat.
Misalnya, koalisi Nasdem (7) – Gerindra (6) yang bakal mengusung Ahmad Ali dan Abdul Karim Aljufri mengantongi 13 kursi.
Koalisi Golkar (7) – PDI Perjuangan (6) yang kemungkinan menjagokan pasangan Irwan Lapatta dan Muharram Nurdin juga mengatrol 13 kursi.
Koalisi Demokrat (4) – PKB (4) yang menggadang-gadang Anwar Hafid berpaket dengan Reni Lamadjido masih butuh satu kursi karena hanya mengantongi 8 kursi.
Serta koalisi PAN (2), PKS (4), Hanura (2), PPP (1) dan Perindo (2) juga cukup jika bersepakat membangun koalisi karena berjumlah total 11 kursi juga bisa menjadi kendaraan politik incumbent Rusdi Mastura – Makmun Amir.
Begitu pun jika skenario kedua KPU tetiba menetapkan hasil Pemilu 2024 sebagai syarat parpol untuk mengusung kandidat, maka strategi komunikasi politiknya pun tidak terlalu banyak berubah.
Dramaturgi Politik
Dramaturgi adalah konsep sosiologis yang dikembangkan oleh Erving Goffman, seorang ahli sosiologi ternama yang menyorot bahwa masyarakat dianggap sebagai panggung teater dan setiap individu memainkan peran tertentu dalam drama sosial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Attock-Suharto-2.jpg)