Rabu, 15 April 2026

OPINI

Ruang Publik dan Intel Sukarela

Kita kerap membanggakan kebebasan berpendapat yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945.

Editor: Regina Goldie
Handover
Muharram Nurdin, Sekertaris DPD PDI Perjuangan Sulawesi Tengah juga dikenal sebagai Petani di Desa Ape Maliko Toaya Donggala. 

Membuka ruang kesadaran berarti menerima bahwa perubahan tidak terjadi seketika.

Ia bekerja perlahan, sering tak terlihat, tapi berdampak dalam. Satu percakapan jujur bisa lebih berarti daripada seribu slogan kosong.

Satu suara yang konsisten bisa membentuk iklim kecil di sekitarnya, iklim di mana orang merasa aman untuk berpikir.

Baca juga: MAN Buol Kirim Tiga Siswi Berprestasi ke LCTF XX Tingkat MA/SMA/SMK

Pada akhirnya, kualitas ruang publik tidak hanya ditentukan oleh negara, tapi oleh warganya.

Apakah kita memilih menjadi bagian dari tekanan, atau menjadi pembuka ruang? Apakah kita ikut menyempitkan percakapan, atau justru memperluasnya?

Demokrasi tidak runtuh hanya karena larangan. Ia juga bisa melemah karena diam yang terlalu panjang.

Dan mungkin, di tengah riuhnya kewaspadaan hari ini, yang paling dibutuhkan bukan lebih banyak suara keras melainkan lebih banyak suara jernih yang berani mengajak berpikir. (*)

Sumber: Tribun Palu
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved