OPINI
Ruang Publik dan Intel Sukarela
Kita kerap membanggakan kebebasan berpendapat yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945.
Membuka ruang kesadaran berarti menerima bahwa perubahan tidak terjadi seketika.
Ia bekerja perlahan, sering tak terlihat, tapi berdampak dalam. Satu percakapan jujur bisa lebih berarti daripada seribu slogan kosong.
Satu suara yang konsisten bisa membentuk iklim kecil di sekitarnya, iklim di mana orang merasa aman untuk berpikir.
Baca juga: MAN Buol Kirim Tiga Siswi Berprestasi ke LCTF XX Tingkat MA/SMA/SMK
Pada akhirnya, kualitas ruang publik tidak hanya ditentukan oleh negara, tapi oleh warganya.
Apakah kita memilih menjadi bagian dari tekanan, atau menjadi pembuka ruang? Apakah kita ikut menyempitkan percakapan, atau justru memperluasnya?
Demokrasi tidak runtuh hanya karena larangan. Ia juga bisa melemah karena diam yang terlalu panjang.
Dan mungkin, di tengah riuhnya kewaspadaan hari ini, yang paling dibutuhkan bukan lebih banyak suara keras melainkan lebih banyak suara jernih yang berani mengajak berpikir. (*)
| Catatan Kritis KAHMI Sulteng: Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Belum Menjawab Kualitas Kesejahteraan |
|
|---|
| Toleransi: Warisan Luhur yang Terus Kami jaga |
|
|---|
| Gubernur Sulawesi Tengah Diminta Bertindak Tegas, Galian C Palu–Donggala Rusak Lingkungan |
|
|---|
| Desa Padang Pujiti Terendam, Pemerintah Tojo Una Una Diminta Transparan |
|
|---|
| Perbedaan Data LKPJ: Cermin Lemahnya Disiplin Administrasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Muharram-Nurdin-Mundur-dari-Balon-Wagub-Usungan-PDd.jpg)